"Paling banyak ditangani Polres Rokan Hilir (Rohil) yaitu 11 orang tersangka," kata Kasubdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Riau Kompol Andrie Setiawan, dalam keterangan persnya di Pekanbaru, belum lama ini.
Selanjutnya Polres Indragiri Hilir 6 tersangka dengan 6 perkara, Dumai 6 orang tersangka dengan 6 perkara, dan Bengkalis 3 tersangka dengan 6 perkara.
Berikutnya Polres Kuansing katanya menyebutkan menangani 4 perkara dengan 4 tersangka, Polresta Pekanbaru 1 tersangka, Rokan Hulu 1 orang. Sedangkan Polres Pelalawan menangani 2 tersangka dengan 1 perkara.
"Sejumlah berkas perkara sudah ada yang dilimpahkan ke kejaksaan namun untuk kasus yang menjerat korporasi saat ini masih nihil," katanya.
ia menambahkan bahwa karhutla adalah suatu peristiwa terbakarnya hutan dan/atau lahan, baik secara alami maupun oleh perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan yang menimbulkan kerugian ekologi, ekonomi, sosial budaya dan politik. Oleh karena itu pelaku harus mendapat tindakan sesuai prosedur hukum berlaku.
Kepala BPBD Riau Edy Afrizal mengatakan saat ini masih terjadi kebakaran lahan di sejumlah daerah akan tetapi karhutla di Riau tidak menimbulkan kabut asap.
"Kabut asap yang terasa sampai Pekanbaru ini kiriman dari Sumatera Selatan. Asap akibat karhutla di Riau tidak sampai menyebar kemana-mana, karena cepat dipadamkan tim gabungan," kata Edy.
Edy menyebutkan luas lahan terbakar di Provinsi Riau sepanjang 2023 ini mencapai 1.906 hektare (Ha) yang terbakar. Total luas lahan yang terbakar hingga 30 September 1.906 ha.
"Kebakaran lahan paling luas di Bengkalis 393 hektare, lalu di Indragiri Hulu 308 Ha, Indragiri Hilir 255 Ha dan Rokan Hilir 236 Ha. Selanjutnya disusul daerah lain dengan angka di bawah 200 Ha terbakar. Lahan terbakar paling sedikit 18 Ha yaitu Kuantan Singingi," jelas Edy.
Sementara itu saat ini tersisa dua unit helikopter water bombing yang siaga di Riau. Padahal sebelumnya heli di Riau ada 5, namun dialihkan ke Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.(RTC)