Cavusoglu: Tuduhan Menlu Prancis ke Erdogan Terlalu Kasar

Dibaca: 2281 kali  Selasa,13 November 2018
Cavusoglu: Tuduhan Menlu Prancis ke Erdogan Terlalu Kasar
Ket Foto :

ANTALYA -- Pejabat Turki dan Prancis berselisih ihwal rekaman pembunuhan Khashoggi. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, Turki telah memperdengarkan rekaman pembunuhan Khashoggi ke sejumlah negara, termasuk Prancis. Namun pejabat Paris mengaku belum tahu soal rekaman ini. menteri Luar Negeri Prancis bahkan sempat menyindir Erdogan.

 

"Kecaman Prancis mengenai cara presiden Turki menangani kasus wartawan Arab Saudi yang terbunuh Jamal Khashoggi melampaui batas," kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pada Senin (12/11). Ia menyebut Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian bertindak terlalu jauh. Le Drian, kata Cavusoglu, seharusnya tahu bagaimana berbicara dengan seorang presiden.  "Jean-Yves Le Drian tidak mengatakan yang sebenarnya," katanya.

 

Le Drian pada Senin mengatakan,Prancis tidak memiliki rekaman yang berkaitan dengan pembunuhan Khashoggi, dan mengatakan Erdogan "memainkan permainan politik" mengenai kasus tersebut. Pada Sabtu, Erdogan mengatakan Ankara telah membagi rekaman yang mengaitkan pembunuhan Khashoggi dengan Arab Saudi, kepada AS, Jerman, Prancis dan Inggris.

 

"Saya tahu dinas intelijen kami memberi semua informasi, termasuk rekaman suara dari sambungan telepon dan catatan, ke dinas intelijen Prancis atas permintaan mereka pada 24 Oktober," kata Cavusoglu, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Anadolu.Ia mengatakan Turki memberikan bukti mengenai pembunuhan Khashoggi ke beberapa negara. Cavusoglu menganggap tuduhan Le Drian ke Erdogan terlalu kasar "Kami akan memburu kasus Khashoggi mengenai itu. Kami bekerjasama dengan setiap orang secara internasional," katanya.

 

"Saat seluruh dunia memuji sikap Turki, tuduhan dan sikap kasar menteri luar negeri Prancis sangat membingungkan. Apa di belakang ini? Apakah mereka berusaha menutup-nutupi pembunuhan ini?" Khashoggi, wartawan Arab Saudi dan kolumnis bagi The Washington Post, hilang setelah ia memasuki Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober. Setelah beberapa pekan membantah terlibat, Kerajaan Arab Saudi mengakui ia telah dibunuh di Konsulat dan itu sudah direncanakan sebelumnya.(rep)

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »