Tidak Terima Penahanan dr. Ayu,

Dokter di Riau Ancam Mogok Praktek Mulai 27 November

Dibaca: 12833 kali  Minggu,24 November 2013
 Dokter di Riau Ancam Mogok Praktek Mulai 27 November
Ket Foto : Puluhan dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Se-Kabupaten Kota di Riau menggelar aksi solidaritas dukungan terhadap dr. Dewa Ayu Sasiara Prawani, SpOG
PEKANBARU,(radarpekabaru.com)-Puluhan dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Se-Kabupaten Kota di Riau menggelar aksi solidaritas dukungan terhadap dr. Dewa Ayu Sasiara Prawani, SpOG yang ditahan karena dugaan kelalaian terhadap pasien sehingga sang pasien meninggal dunia. Bertempat di Gedung Pustaka Soeman HS Pekanbaru, Ahad (24/11/13).

IDI Wilayah Riau mendukung aksi solidaritas keprihatinan nasional himpunan obsteri dan ginekologi Indonesia (POGI) sesuai surat Ketua PB POGI No. 252/Ist/Ketum/2013 tanggal 21 November 2013 bahwa pada tanggal 27 November 2013 seluruh dokter dilingkungan IDI Riau hanya akan memberikan pelayanan emergency saja.

Menurut IDI apa yang terjadi pada dr. Dewa Ayu diluar kuasa dokter dan merupakan kriminalisasi terhadap profesi dokter yang dilakukan oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara dimana berdasarkan Kasasi di Mahkamah Agung No. 365/K/Pid/2012 dr. Dewa Ayu dinyatakan bersalah.

Menurut IDI Se-Riau dokter merupakan aset bangsa yang dalam menjalankan profesinya membantu masyarakat yang memberikan kemampuan terbaik secara profesional untuk kesembuhan pasien sesuai dengan sumpah dan etika kedokteran.

IDI Riau dalam pernyataan sikapnya yang dibacakan oleh Dr. Chairul mendukung sepenuhnya segala upaya yang telah dan akan dilakukan oleh pengurus besar IDI beserta jajaran agar dr. Dewa Ayu dan dua rekaanya dibebaskan dari dakwaan.

Selain itu IDI juga mendukung sepenuhnya upaya yang telah dilakukan oleh Menteri Kesehatan RI untuk menunda eksekusi putusan kasasi MA sampai keluarnya putusan peninjauan kembali dengan mempertimbangkan putusan PN Manado yang menyatakan bahwa Terdakwa bebeas dari Dakwaan.

Mendukung sepenuhnya sikap politik Komisi IX DPR RI yang mendorong MA mengabulkan permohonan yang diajukan Menkes RI dan IDI tentang penangguhan eksekusi hukuman terhadap dr. Dewi Ayu dan memutuskan untuk dilakukan peninjauan kembali dengan mempertimbangkan semua fakta hukum demi mendapatkan putusan yang seadil-adilnya.

Seperti marak diberikatakan seorang pasien yang bernama Julia Fransiska Makatey (26) rujukan dari puskesmas. Pasien yang mengandung anak kedua tersebut diketahui telah mengejan dan dijadwalkan untuk persalinan normal. Namun ternyata dalam kurun waktu 8 jam, tidak ada kemajuan bahkan dinyatakan dalam keadaan gawat janin.

Oleh karena itu, dilakukan tindakan operasi sesar. Pada operasi tersebut, keluar darah hitam yang menandakan sang ibu kekurangan oksigen. Tim dokter berhasil mengeluarkan sang bayi perempuan dengan berat 4,1 kg. namun sayangnya, kondisi sang ibu memburuk dan 20 menit kemudian meninggal.

Meninggalnya sang ibu memunculkan dugaan adanya kelalaian yang dilakukan oleh pihak dokter yang menangani. Hal itu kemudian yang membuat Ayu dan kedua rekannya berhadapan dengan hukum dan ditahan. Karena meninggalnya sang ibu memunculkan dugaan adanya kelalaian atau mal prakter yang dilakukan oleh pihak dokter yang menangani.

Namun dari penjelasan ketua PB IDI Zaenal Abidin disalah satu situs berita online nasional, Ayu beserta dua rekannya tidak melakukan suatu tindakan salah atau malpraktek. Sebab, seluruh standart operasi telah dilakukan dengan benar.

Menurutnya semua standart operasi telah dilakukan. Dan berpendapat jika gagalnya seorang dokter dalam menangani sesuatu dianggap melanggar hukum, maka kedepannya tidak akan ada dokter yang mau melakukan tindakan emergency lagi.

Atas ditangkapnya Ayu, muncul berbagai dukungan dari teman seprofesinya. Tak jarang pula banyak hujatan mengenai tindakannya. Termasuk oleh IDI Wilayah Riau.

Sekedar informasi Saat ini,kasus tersebut masih terus bergulir. Tim pengacara yang ditunjuk oleh IDI tengah melakukan permintaan peninjaun kembali berkas kasus Ayu. Sebab, dalam keputusan ditingkat Mahkama Agung tidak dihadirkan saksi ahli yang mengerti mengenai emboli lebih dalam. (rls/ram)

Editor : Alamsah
Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »