Haji dan Nilai Kebencanaan

Dibaca: 4498 kali  Kamis,16 Agustus 2018
Haji dan Nilai Kebencanaan
Ket Foto :

RADARPEKANBARU.COM.Menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci adalah salah satu rukun Islam yang terakhir. Naik haji bukan sekadar naik haji, melainkan juga bernilai literasi bencana. Seseorang yang naik haji tidak luput dari aturan, seperti larangan untuk tidak merusak lingkungan di sana.Setiap orang yang naik haji tidak boleh merusak tumbuh-tumbuhan, hewan, dan melakukan kerusakan sosial.

Dalam hadis dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda, "Bahwa Nabi Ibrahim telah mengharamkan negeri Makkah dan saya mengharamkan negeri Madinah termasuk di dalamnya dua lembah yang berbatu kerikil. Tidak boleh ditebang pohonnya dan tidak boleh pula diburu hewan-hewannya." (HR Imam Muslim).

Kemudian, umat disuruh menanam pohon dan bukan merusaknya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Seseorang yang menanam benih kemudian hasilnya di makan oleh burung, hewan liar, dan di curi oleh manusia, terhitung menjadi ibadah dan sedekah." (HR al-Bukhari).

Terdapat pelajaran penting terkait dengan bencana dan mitigasi bencana dari hadis di atas. Pertama, Kota Makkah dan Madinah sebagai pusat peradaban Islam. Imple mentasi akhlak terhadap alam, baik hewan maupun tumbuhan, berada di kota ini. Hewan yang berada di Tanah Suci dilarang untuk diganggu dan dibunuh.Kepunahan hewan, terbunuhnya hewan, dan rusaknya habitat hewan yang terjadi di Tanah Air adalah bukti tidak diterapkannya nilai tersebut.

Orang yang sudah naik haji akan paham menerapkan nilai-nilai ekologi untuk meng hindari kepunahan hewan. Saat ini, sudah tidak lagi terhitung berapa banyak hewan liar terbunuh, terpanggang, dan kehilangan rumah atau habitat. Hingga saat ini, perkebunan masih diperluas sehingga tidak mungkin kawasan hutan diperluas. Mereka yang sudah memahami secara mendalam nilai-nilai ekologis dapat mengimplementasikan kepada keluarga.

Lebih luas lagi kepada tetangga dan berdakwah banyak tentang hal ini. Kedua, terdapat nilai-nilai mitigasi bencana. Upaya penanganan bencana terdiri atas mitigasi biotis dan mitigasi sosial. Mitigasi biotis berkaitan dengan konservasi pohon-pohon an.Kejadian bencana saat ini berkaitan dengan kegagalan implementasi nilai- nilai ini pada masyarakat. Ketiga, mitigasi sosial. Mereka yang naik haji akan berkumpul bersama orang lain dari berbagai negara.

Dalam mitigasi bencana, maka kekuatan sosial menjadi sangat urgen. Kekuatan sosial lain juga berkaitan dengan Islam sangat memuliakan tetangga. Di samping itu, membangun kekuatan sosial telah dipraktikkan sejak zaman Nabi. Dengan implementasi nilai sosial ini, mereka yang terdampak bencana dapat terbantu.(rep)

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »