Bertaruh dalam Inkonsistensi 'Menyorot Cawapres Pilihan Prabowo' 

Dibaca: 3765 kali  Selasa,14 Agustus 2018
Bertaruh dalam Inkonsistensi 'Menyorot Cawapres Pilihan Prabowo' 
Ket Foto : Prabowo - Sandi

Dinamika menarik menjelang pendaftaran calon presiden dan wakil presiden dari kubu oposisi berakhir anti-klimaks setelah Prabowo memilih Sandiaga Salahudin Uno. Sandi yang belum setahun dilantik menjadi wakil gubernur DKI menyisihkan sejumlah rival dari sesama kubu oposisi, diantaranya Zulkifli Hasan, AHY, Salim Assegaf, serta beberapa nama non parpol seperti Ustadz Abdul Somad dan Rizal Ramli.

Dipilihnya sosok Sandi menyisakan banyak pertanyaan publik, khususnya dari kalangan oposisi yang sejak awal telah bertekad mengusung pimpinan nasional yang baru, mulai dari eksponen ummat Islam, koalisi parpol oposisi, hingga kalangan aktivis. Diantara beragam spekulasi yang muncul tentang alasan dipilihnya Sandi, setidaknya terdapat dua inkonsistensi fundamental yang ditunjukkan Prabowo Subianto.

Pertama, inkonsisten dengan isu pengarusutamaan politik Islam yang telah dibangun tim pemenangan Prabowo sejak Pilpres 2014 hingga Pilkada DKI 2017. Namun, setelah empat tahun tampilan isu Islam dalam tema sentral konsolidasi kubu oposisi, pemilihan Sandi telah melemahkan arus politik Islam yang menginginkan Prabowo menggandeng Cawapres dari parpol berbasis Islam atau ormas Islam. 

Secara personal, baik Prabowo maupun Sandi, sejatinya tidak memiliki rekam jejak untuk diasosiasikan dengan politik Islam, baik parpol maupun ormas. Bahwa Prabowo memiliki kedekatan dengan kelompok PII di militer era Soeharto, namun diyakini lebih sebagai respon taktis ketimbang jalinan hubungan stategis. Begitu pula dengan Sandi, satu-satunya atribut yang bisa disematkan hanya lah posisinya sebagai Bendahara BPH Universitas Muhammadiyah Jakarta, namun tanpa record kaderisasi di Muhammadiyah. 

Kedua, inkonsistensi pada jargon-jargon ekonomi politik yang kerap dikumandangkan. Belum hilang dalam ingatan kita, dua diksi yang membuat Prabowo cukup menyentak kalangan aktivis adalah diksi neoliberalisme dan kebocoran kekayaan negara. Dua problem serius yang saling berkait langsung, neoliberalisme adalah hulunya, kebocoran kekayaan negara adalah konsekuensinya.

Ekonomi pasar bebas, sebagai praktik ekonomi neolib, membuat kekayaan negara tidak dapat dinikmati rakyatnya sendiri. Ekonomi neolib lah yang membuat korporasi trans-nasional leluasa mengeruk kekayaan alam Indonesia, dari minyak bumi, hutan hingga air, serta membuat pasar domestik dibanjiri produk asing, dari perbankan, industri hingga pangan. Berkiblat pada ekonomi pasar lah yang menyebabkan air dijadikan komoditas layaknya minyak dan gas, dan membuat harga seliter air mineral hampir sama mahalnya dengan seliter bahan bakar. Kebocoran kekayaan negara akibat praktik ekonomi neolib, jauh lebih dahsyat ketimbang praktik korupsi, meski keduanya tentu saja adalah pendarahan yang mesti segera dihentikan.

Sandiaga Uno adalah pelaku free trade, kesayangan William Surajaya dan anak-anaknya, yang memulai bisnis sebagai broker investasi. Jangkauan bisnis Sandi kini, dari investasi hingga pertambangan, merupakan bisnis yang berkait erat dengan resource negara dan regulasi, bidang bisnis yang memerlukan high yield khas pelaku ekonomi neoliberal, jenis bisnis yang tidak bisa jauh dari politik. Sehingga hampir bisa dipastikan, kemunculan Sandi sebagai cawapres, juga didukung para sekondannya di dunia bisnis.

Sejarah demokrasi liberal, yang dimulai sejak munculnya kelompok kaya baru di Eropa pasca revolusi industri, menunjukkan demokrasi elektoral juga didesain untuk mengamankan kepentingan para pemodal, dalam hal regulasi dan politik anggaran. Para legislator hasil liberal election tersebut, pada akhirnya muncul menjadi penyeimbang dominasi raja-raja dan gereja dalam politik dan ekonomi. Artinya, tanpa kemunculan di ruang politik pun, pemilik modal sudah punya sejarah panjang menjadi pemegang kendali dunia politik. 

Pemilihan Sandi adalah kontradiksi serius atas gagasan-gagasan Prabowo sendiri yang hendak menegakkan daulat ekonomi pancasila, merealisasikan ekonomi kerakyatan, dan menghentikan kebocoran kekayaan negara. Karena dapat dipastikan, jika pasangan ini memenangkan pemilihan umum, porsi Sandi adalah penanganan masalah ekonomi. 

Penulis : Ton Abdillah Has, adalah Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah 2010-2012

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »