Golput Bukan Solusi | oleh : Andrizal T

Dibaca: 1474 kali  Senin,25 Juni 2018
Golput Bukan Solusi | oleh : Andrizal T
Ket Foto : Andrizal T

Dalam sebuah pemilihan umum kita sudah sering dengar tentang golongan putih (golput) terus apa sih itu golput?., Golput itu keadaan seseorang yang sudah memiliki hak suara dalam pemilihan namun ia tidak memberikan suaranya dalam pemilihan tersebut. Golongan putih (golput) pada dasarnya adalah sebuah gerakan moral yang dicetuskan pada 3 Juni 1971 di Balai Budaya Jakarta, sebulan sebelum hari pemungutan suara pada pemilu pertama di era Orde Baru dilaksanakan. Arief Budiman sebagai salah seorang eksponen Golput berpendapat bahwa gerakan tersebut bukan untuk mencapai kemenangan politik, tetapi lebih untuk melahirkan tradisi di mana ada jaminan perbedaan pendapat dengan penguasa dalam situasi apa pun (https://id.wikipedia.org/wiki/Golongan_putih).

Golput atau tidak nya seseorang menurut saya itu wajar saja mengapa karena seseorang yang ikut dalam pemilihan itu tidak bisa di paksakan jika pasangan tersebut tidak cocok sama karakter yang dia kehendaki serta visi misi dari seorang pemimpin tersebut masih belum jelas arahnya.

 Di Negara manapun sudah tidak heran yang namanya golput, golput sudah sejatinya tidak bisa di elakkan dari negara yang menjalankan sistem demokrasi sekalipun itu negara yang maju karena golput merupakan bumbu-bumbu penyedap yang tak bisa di hilangkan ,  namun bisa di kurangi dari segi pemilih yang akan golput.

Di Negara Indonesia memilih merupakan hak sementara, di Australia memilih ialah kewajiban di mana orang yang golput akan mendapatkan  ganjarannya berupa denda, jika sistem ini di terapkan di Indonesia saya rasa akan sangat efektif untuk mengurangi tingkat golput dan akan menambah tingkat partisipasi masyarakat dalam hal memilih namun tidak terlepas dari sistem itu hal yang membuat seorang warga Negara tidak memilih mungkin karena tidak mendapatkan undangan, tidak terdaftar di DPT yang lebih parah lagi sudah mendapatkan surat undangan, sudah terdaftar di DPT namun masih golput . Ada beberapa orang yang secara tidak langsung saat ditanya kenapa tidak memilih?., mereka menjawab; buat apa saya milih untungnya  buat saya apa?., mereka yang dipilih setelah duduk tidak akan ingat kita lagi, yang ada hanya mementingkan keluarganya saja, bahkan mereka tidak mementingkan kepentingan masyarakat banyak. Paradigma atau persepsi dari masyarakat yang menganggap pemimpin itu sejatinya tidak pro ke rakyat nya sendiri melainkan kepada artikulasi kepentingan. 

Menuju Indonesia yang berdemokrasi hak memilih itu sudah menjadi kewajiban tiap warga negara indonesia yang sudah berusia minimal  tujuh belas tahun/sudah kawin saat pemilihan, sayangnya kesadaran yang timbul dari hati nurani untuk memilih belum sepenuhnya timbul dalam diri kita masyarakat indonesia saat ini.

Demi mewujudkan pemilu yang maju dan adil, sebagaimana Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat dengan tujuan untuk menghasilkan pemerintahan yang demokratis. Sebagaimana diamanatkan di dalam UUD 1945, Pemilu diselenggarakan dengan memedomani asas-asas Pemilu, yakni Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia, serta Jujur dan Adil (Luber dan Jurdil). Kita sebagai rakyat seharusnya sudah tidak apatis lagi dalam pemilihan mengapa jangan apatis?., Karena melihat dari sejarah pemilu 1955 s/d 1999 komponen sistem pemilu tertutup. Tahun 2004 s/d 2014 komponen sistem pemilu tebuka, artinya dari beberapa pengalaman dan sejarah kita sudah lebih kurang sebelas kali melaksanakan pemilu. sebagai seorang warga negara yang baik dan masyarakat yang mengingikan perubahan dan kemajuan untuk bangsa dan Negara Indonesia. Tentunya sudah menjadi Hak Kita sebagai warga negara untuk tidak melakukan golput, karena satu suara sangat berarti sebagaimana istilah yang sangat sering diucapkan oleh para politisi Vox Populi Vox Dei yang artinya suara rakyat, suara tuhan. Betapa pentingnya satu suara, artinya satu suara sangat menentukan lima tahun nasib pemerintahan kedepannya. Ingat dalam pemilihan jangan ada rasa keterpaksaan karena pemilih yang cerdas bukan datang karena uang melainkan datang karena adanya panggilan jiwa dan kesaaman visi misi serta pemikiran yang rasionalitas. 

Mahasiswa adalah salah satu kategori yang selalu dihimbau untuk menjadi pelopor pemilih cerdas oleh penyelenggara pemilu (KPU) di Indonesia. Angka golput besar salah satunya ada pada mahasiswa. Dikarenakan, jauhnya kampung halaman, malas pulang kampung dll. Dan ada juga tidak terdaftar di TPS tempat kos atau kontrakan tempat mereka kuliah. Dapat dilihat Data BPS tahun 2013/2014 jumlah mahasiswa di Indonesia di Perguruan Tinggi Negeri 1 827 240 sedangkan di Perguruan Tinggi Swasta 4 012 347 (https://www.bps.go.id/)

Dilihat dari jumlah data BPS Jumlah mahasiswa bekisar lebih kurang 5 839 587 yang punya hak pilih di seluruh Indonesia. Andai saja 25%  mereka berasal dari luar kota tempat mereka kuliah, dengan alasan diatas hampir lebih kurang sekitar 1 459 896 75 yang suaranya menjadi tanda tanya?  

Salah satu untuk mengatasi golput yang efektif itu sosialisasi yang tempat sasaran (efektif,efisiensi), dan kampus adalah salah satu pelopor untuk menjadi pemilih cerdas, mempermudah aturan bagi pemilih untuk dapat menggunakan hak pilih, Perbaiki sistem pendataan dan pendaftaran pemilih sehingga menjadi lebih mudah (perlu dukungan personil dan anggaran yang memadai), Mengubah hak memilih menjadi kewajiban memilih (sebagaimana diterapkan di beberapa negara dan bahkan disertai dengan sanksi), Sistem pemilu yang digunakan harus sangat mudah dipahami oleh pemilih (misalnya dengan jumlah partai yang tidak terlalu banyak, tata cara memberikan suara yang mudah, design surat suara yang sederhana) , Waktu sosialisasi dan anggarannya harus disediakan secara cukup.

Mengapa harus memilih?

1. Dengan memilih kita bisa menyampaikan aspirasi kita kepada pemimpin yang telah kita pilih

2. Dengan memilih kita sudah menjalankan HAK kita sebagai warga Negara Indonesia yang baik

3. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan Rakyat Indonesia yang memiliki hak pilih menjadi golongan putih (golput) dalam pemilu

4. Memilih menentukan 5 tahun kedepannya

5. Satu suara anda sangat menentukan pemimpin kedepannya

Dalam pemilihan kita selalu di hadapkan dan di benturkan  dengan adanya figure atau sosok pemimpin yang tidak berkompeten namun memiliki modal yang kuat untuk bisa maju menjadi seorang pemimpin di daerahnya walau begitu kita sebagi seorang warga Negara yang yang beradad dan beradab sudah seharusnya pandai memilah dan memilih pemimpin yang sesuai hati nurani dan rasional bukan melalui paksaan dari pihak manapun.

Banyak Sentilan terhadap golput, itu adalah sebuah  guyonan yang dianggap sebagai bentuk  atas aksi yang membudidaya di masyarakat yang menjadi bahan pematik semangat untuk tidak golput   serta banyak gambar lelucon yang juga muncul di media-media saat ini baik  itu cetak, media elektronik maupun media sosial yang memuat agar masyarakat harus menghilangkan sikat apatis, acuh tak acuh yang tujuannya tidak lebih agar kita sadar betapa pentingnya suara saat pemilihan berlangsung .

Demi mewujutkan pemilu 2019  yang cerdas dan berintegritas serta maju dan adil sebaiknya kita sebagai warga Negara yang taat agama dan hukum sudah pastinya tidak akan golput , orang cerdas orang yang sadar akan bahayanya tidak memilih mengapa saya bilang begitu bayangkan saja anda punya calon pemimpin terbaik tapi calon yang anda dambakan tersebut tidak anda pilih, sehingga calon yang di rasakan bisa memimpin negeri ini tidak memiliki kekuasaan untuk memperbaiki ekonomi di negeri sendiri. karena  itulah satu suara anda sangat menentukan Indonesia kedepannya .

Tidak memilih merupakan persepsi di mana kita harus serius menangani penyakit di masyrakat yang tidak peduli daerahnya sendiri, bukan karena kurangnya sosialisasi tapi karena kurangnya kesadaran dari diri sendiri sehingga memunculkan sikat apatis sikap yang tidak boleh kita terapkan apabila kita ingin memajukan sebuah Negara yang berdemokrasi bukan hanya berdemokrasi tapi aspirasi masyarakat harus di junjung tinggi .

Jadi dapat disimpulkan bahwa golput adalah pilihan tidak memilih sebagai bentuk akumulasi rasa jenuh (apatis) masyarakat yang nyaris setiap tahun mengalami pemilihan kepala daerah, golput juga sebagai reaksi atau protes atas pemerintahan dan partai-partai politik yang tidak mendengarkan suara rakyat, perlawanan terhadap belum membaiknya taraf kehidupan masyarakat baik secara ekonomi, politik, hukum dan budaya. Golput merupakan respon atas ke tidak mampuan perwakilan, partai atau penguasa dalam menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat yang telah menerima tugas.

 

 

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Golongan_putih

Kompas.com

https://www.bps.go.id/

http://www.voaindonesia.com/a/mui-keluarkan-fatwa-haram-golput-partisipasi-pemilih-meningkat/1876637.html

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »