Warga Kampar Kiri Hulu Hidup di Kawasan SM,

Syamsuar akan Bawa Menteri LHK ke Sana

Dibaca: 3146 kali  Rabu,11 April 2018
Syamsuar akan Bawa Menteri LHK ke Sana
Ket Foto :

RADARPEKANBARU.COM. - Calon Gubernur Riau, Syamsuar benar-benar merasakan jeritan hati masyarakat 8 Desa di Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau. Mereka sudah tinggal berpuluh-puluh tahun di sana, tapi masih sangat terisolir. Wilayah yang ditempati warga itu masih masuk dalam kawasan Suaka Margasatwa (SM).

Sehingga sarana infrastruktur jalan sangat minim. Bahkan warga tidak mengenal yang namanya sarana komunikasi telepon seluler, apalagi jaringan internet. Cagub Riau nomor 1, Syamsuar sengaja blusukan ke Desa Aur Kuning, Kampar Hulu Kiri. Ia kesana menggunakan sampan pancung atau yang disebut Jonson oleh masyarakat setempat. Lebih kurang 2 jam, Syamsuar melintasi Sungai Subayang dari Desa Gema ke Desa Aur Kuning bersama H Saidin dan Ramadhan yang merupakan Anggota DPRD Kampar.

Pemandangan alam yang sangat asri dengan pepohonan nan hijau membuat hati menjadi tenang dan damai. Belum lagi adanya penampakan binatang dari dalam hutan yang meminum air sungai. Monyet dan kera bergelantungan di pohon, sekelompok kerbau yang makan di padang rumput tepian sungai, babi hutan serta burung pemakan ikan yang berada di batu-batu sungai.

Sepanjang perjalanan, Syamsuar juga tak melewatkan lambaian tangannya kepada masyarakat di tepian sungai maupun yang menaiki Jonson. Bahkan masyarakat yang sudah mengenalnya berbalas melambaikan tangan dengan jari telunjuk (satu).

"Sungguh luar biasa perjalanan ke Desa Aur Kuning ini. Naik jonson satu-satunya transportasi untuk sampai ke Desa itu. Dari Desa Gema kita butuh waktu dua jam lebih untuk bisa bertemu dengan masyarakat di sana," kata Syamsuar yang sempat menepi sesaat dan duduk di kayu-kayuan tepi sungai.

Masih dikatakan Bupati Siak dua periode ini, masyarakat Desa Aur Kuning yang terbilang terisolir ini sangat ramah, hidup sederhana dan menjaga hubungan kekeluargaan dengan sesama masyarakat. Mereka yang mayoritas bekerja sebagai petani getah ini hidup sangat sederhana.

Hebatnya anak-anak mereka bisa sekolah hingga sarjana. Meskipun harus berjuang keras untuk mewujudkan cita-cita anak mereka yang ingin hidup lebih berguna lagi bagi keluarga dan daerah.

"Anak-anak yang melanjutkan pendidikan ke SMA sederajat harus pisah dari orangtua. Karena di Aur Kuning hanya ada Tk, SD dan SMP. Tapi mereka berhasil dan dapt beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Inilah hebatnya masyarakat Aur Kuning, yang ingin perubahan," sebut Syamsuar lagi.

Contohnya, Racin (50) petani getah ini memiliki 5 orang anak. Anak ketiganya akan diwisuda pertengahan April 2018 ini di Yogyakarta. Anak pertama sudah menikah dan yang kedua bekerja di Batam dengan pendidikan terakhir SMK Pertanian. Dua orang lagi masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

"Kalau bisa di Desa ko ada SMA atau SMK. Jadi anak-anak kami ndak jauh lagi dari kami. Kami kan petani gatah nyo, biaya anak sekolah jauh itu besar juga. Untuk makan saja pas-pasan," kata Racin. Selain itu Ela (22) meminta kepada Cagub Riau, Syamsuar untuk membangun pondok pesantren atau sekolah agama di Desa Aur Kuning ini.

"Kami mau juga anak-anak masuk ke sekolah agama. Tapi kalau bisa di kampung ini juga," sebut Ela. Dan ternyata, kebanyakan para ibu-ibu di Aur Kuning tidak paham betul soal daerah Suaka Margasatwa (SM). "Tidak ngerti, yang kami tahu kami payah bercocok tanam di sini. Banyak yang tidak boleh," ungkap lagi. Tetapi hal itu diluruskan oleh Asrul, tokoh pemuda di sana.

Masyarakat tahunya selama ini mereka tinggal di hutan lindung bersama hewan - hewan liar yang dilindungi negara dan tidak boleh diburu bahkan dibunuh. "Pak Syam bisa bongkar isolasi di Siak, kami mohon juga buka juga isolasi di hutan tempat kami tinggal ini, Kampar Kiri Hulu. Orangtua kami sudah lebih lama tinggal di hutan Rimba Baling ini," kata Asrul.

Delapan Desa yang menggunakan akses transportasi Jonson ini diantaranya Muara Bio, Batu Sanggat, Tanjung Beringin, Gajah Bertelur, Aur Kuning, Subayang Jaya, Pangkalan Serai, Desa Jalur Kiri.

"Di delapan desa ini, kami sangat sulit sekali berkomunikasi dengan hp. Karena tidak ada jaringan telepon dari berbagai provider. Warga harus ke pusat kota dulu untuk mendapatkan jaringan seluler. Kami juga minta ini dengan pak Syamsuar kalau nanti menjadi Gubernur," sebut Asrul lagi. Menanggapi aspirasi masyarakat Aur Kuning itu, Syamsuar akan mencarikan solusi agar status SM itu bisa keluar atau menjadi hutan sosial seperti yang sudah ada di Siak. Tentunya proses itu tidak mudah dan perlu waktu.

"InsyaAllah saya akan bawa Bu menteri Siti ke Desa ini. Semoga doa kita bersama dapat tercapai, dan masyarakat di sini bisa mengolah lahan untuk pertanian serta infrastruktur jalan juga bisa dibangun di sini. Termasuk pengadaan jaringan listrik PLN, jaringan telekomunikasi dan lainnya," kata Syamsuar yang sempat menyantap durian asli Kampar serta duku dan buah manggis. (grc)

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »