BBKSDA Riau akan Translokasi Harimau Penyerang Karyawan PT. THIP

Dibaca: 5723 kali  Sabtu,06 Januari 2018
BBKSDA Riau akan Translokasi Harimau Penyerang Karyawan PT. THIP
Ket Foto :

RADARPEKANBARU.COM - Munculnya Harimau Sumatra di kawasan perusahaan PT. Tabung Haji Indo Plantation (PT. THIP), membuat geger, terlebih mengakibatkan tewasnya Jumiati (33) di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Inhil, Rabu (3/1/2018) lalu.

Hewan yang termasuk dilindungi oleh negara ini diduga muncul akibat ekosistemnya terganggu hingga menampakkan diri di tengah kawasan perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit itu.

Perwakilan PT. THIP) Dani Murtopo di depan awak media mengatakan akan sepenuhnya bertanggung jawab terhadap korban. "Dari perusahaan sendiri akan memberikan bantuan dan pertanggung jawaban atas peristiwa yang menimpa korban," ungkap Dani.

Peristiwa naas ini sebelumnya belum pernah terjadi di kawasan PT. THIP sejak 20 tahun belakangan. Ditambahkan Dani, lahan operasi perusahaannya tidak termasuk ke kawasan konservasi. "Dari tahun 1998 sampai sekarang ini, baru sekali ini terjadi penyerangan hewan liar ini. Harimau ini muncul karena panen sawit," sebut Dani.

Selain itu, pihak perusahaan telah menghimbau kepada seluruh karyawannya untuk tidak berpisah-pisah saat panen. Bukan tidak mungkin setelah terjadinya peristiwa ini dapat mengambil hikmah dan jadi pembelajaran.

"Kita juga sudah menghimbau kepada seluruh karyawan untuk tidak sendiri-sendiri lagi berjalan dan memanen sawit. Lebih berhati-hari lagi," imbuh Dani.
 
Plt Kepala Balai Besar Kenservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau, Haryono, Jumat (5/1/2018) siang, menyebutkan telah mengambil langkah cepat dengan memantau tempat populasi Harimau ini.

"Kita pelajari terlebih dahulu barapa jumlah hewan liar ini di lokasi. Jika untuk memungkinkan akan dilakukan translokasi atau dievakuasi," ungkap Haryono.

Tim gabungan dari berbagai elemen, lanjut Haryono telah berada di lapangan untuk mendapatkan sejumlah data-data kongkrit keberadaan hewan buas ini. Untuk proses pecepatan tentunya didukung oleh pihak perusahaan.

"Data-data yang kita kumpulnya tentu tidak berdasarkan laporan dan imformasi saja. Tapi juga menganalisa beberapa temuan di lapangan dan ekosistem hewan liar ini," sebut Haryono.

Selain itu juga, upaya pencegahan terhadap hewan ini tentu dilakukan berdasarkan himbauan serta sosialisasi ke masyarakat setempat. Lalu pihaknya juga telah menyediakan perangkat.

"Cukup dengan seekor kambing jantan untuk memancing harimau ini keluar dari tempat persembunyiannya. Dimana umpan ini sangat ampung tercium oleh harimau dari jarak berkilo-kilo," kata Haryono saat di Kantor BBKSDA, Pekanbaru.

Sejauh tahun 2016 tepatnya Desember sampai awal Januari 2017 hingga Mei dan terkhir Januari 2018 ini. Waktu itu yang muncul hewan liar ini di kawasan konservasi Kerumutan. Hanya satu ekor saja kelihatan berdasarkan pengamatan melalui camera pengintai.

"Ada beberapa individu harimau ini terekam dan didukung berdasarkan jejak dan kotoran yang ditemui. Laporan warga juga menyebutkan ada 3 kawanan harimau, 2 indukan dan 1 anaknya," singkat Haryono.

Sebelumnya diberitakan, karyawan harian PT. THIP diserang ketika berpapasan dengan harimau di KCB 76 Blok 10 Afdeling IV Eboni Estate. Meski sudah memanjat sawit, Jumiati tak selamat setelah harimau ikut memanjat dan menerkamnya ketika jatuh.(hrc)

 

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »