Suka-Duka Helen Mengajar Anak-anak Pribumi di Pedalaman Riau

Dibaca: 7733 kali  Jumat,27 Oktober 2017
Suka-Duka Helen Mengajar Anak-anak Pribumi di Pedalaman Riau
Ket Foto : Suku Talang Mamak suku pedalaman di Bumi Lancang Kuning

RADARPEKANBARU.COM - Helen Lucen Silalahi (29) telah membulatkan tekadnya mengabdi untuk pendidikan anak-anak di pedalaman Riau dan Jambi. Bergabung dengan komunitas Konservasi Indonesia WARSI sejak September 2015, Helen langsung ditempatkan sebagai Fasilitator Pendidikan di Komunitas Talang Mamak di Indragiri Hulu, Riau.

Butuh waktu sekitar delapan jam berkendara dari Jambi hingga mencapai komunitas Talang Mamak di Datai, wilayah paling hulu di Batang Gangsal, Kab Indragiri Huku (Inhu), Riau. Datai merupakan kelompok Talang Mamak suku pedalaman di Bumi Lancang Kuning yang cukup besar dibandingkan daerah lain, yaitu sekitar 72 KK. Orang Talang Mamak di Datai menjadi bagian dari Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gangsal.

Untuk mencapai Datai, Helen harus melalui darat dari simpang Pendowo Desa Keritang, Kecamatan Kemuning, Indragiri Hilir (Inhil), Riau, dengan jarak sekitar 23 km dengan jalur darat. Satu-satunya akses ke Datai menggunakan sepeda motor, sekitar tiga jam perjalanan.

Suka Duka Helen Mengajar Anak Pedalaman Sumatera


Untuk satu jam pertama, kondisi jalan lumayan baik karena masih jalan perkebunan. Namun dua jam berikutnya sudah jalan tanah yang hanya muat untuk sepeda motor.
 

Suka Duka Helen Mengajar Anak Pedalaman Sumatera


Namun penggunaan kapal sangat tergantung ketinggian muka air sungai. Kala sungai dangkal, sulit sekali menggunakan perahu, maka pilihannya menggunakan rakit yang tentu waktu bisa sampai tiga hari.

Perdana di Talang Mamak pada Oktober 2015, Helen mengambil jalan dari Keritang. Naik motor ojek dengan ongkos Rp 250 ribu. Melewati jalan tanah, kemudian masuk ke perkebunan kepala sawit. Sejauh mata memandang, hamparan luas kebun sawit dan jauh di ujung sana terlihat hutan yang masih rapat, di situlah Talang Mamak itu berada.

Suka Duka Helen Mengajar Anak Pedalaman Sumatera


Tugas Helen adalah mengajar langsung anak-anak suku Talang Mamak dan melakukan advokasi ke dinas pendidikan kecamatan dan kabupaten setempat untuk mengalokasikan itu tetap di Komunitas Talang Mamak.

Sebetulnya di Datai sudah ada namanya SD Marginal, kelas jauh dari SD 004 Lemang, yang jaraknya terpisah satu hari perjalanan dengan menggunakan perahu. Namun akses yang jauh dari Lemang membuat tenaga pengajar yang ditempatkan ke Datai juga terkendala waktu dan sulitnya transportasi. Akibatnya, banyak akan-anak usia sekolah hanya bermain atau ikut orang tuanya ke ladang. Kedatangan Helen kembali menyemangati anak-anak untuk meraih pendidikan.

"Suka atau tidak perubahan nyata ada di depan mereka, semakin terbukanya hutan dan juga semakin sering interaksi dengan masyarakat lain dan sumber penghidupan juga yang semakin kompetisi mengharuskan masyarakat adat untuk juga bisa mengakses pendidikan yang layak dan tentu sesuai kondisi adat dan budaya mereka," tutur alumni Antropologi Sosial FISIP Universitas Sumatera Utara (USU) di Medan itu.


Helen mengisahkan, saat pertama kali datang ke Datai. Kondisi sekolah memprihatinkan, hanya ada dua kelas untuk murid-murid yang berjumlah 60 orang. Kelas 1-3 digabung dalam satu lokal, sedangkan kelas 4-5 satu lokal. Kalau sudah kelas 6, anak muridnya dipindahkan ke sekolah induk di Lemang.

"Saya mengajar untuk anak-anak kelas 4-5, kadang juga untuk kelas yang di lokal satu lagi, masih belajar yang sangat dasar, membaca, menulis dan berhitung, tentu juga menyesuaikan dengan kurikulum meski juga kita tidak bisa sepenuhnya berpedoman kurikulum karena keterbatasan anak-anak dalam menerima pelajaran," sebut Helen.

Helen, yang pernah mengajar di bimbingan belajar di Kota Medan, mempunyai pendekatan tersendiri untuk mengatasi warga pedalaman itu. Hampir sama dengan komunitas adat lainnya, pendidikan bagi komunitas Talang Mamak juga belum terlalu dianggap penting. Banyak anak usia sekolah yang ikut orang tuanya ke ladang, dan hanya sesekali ke sekolah, alasannya tidak ada guru di sekolah.

"Makanya kita selain menyemangati muridnya untuk sekolah juga mencoba untuk menggugah orang tuanya, selain itu juga melakukan pendekatan ke dinas pendidikan untuk menempatkan tenaga pendidik di Sekolah Marginal, tentu dengan honor yang memadai, mengingat akses dan juga transportasi yang sangat mahal untuk menuju lokasi," sebut perempuan kelahiran Nahornop Sumatera Utara, 4 September 1988, ini.

Untuk itu, ketika di sekolah, dia tidak hanya menerangkan pelajaran, namun juga banyak tanya-jawab. Tak lupa ia menyiapkan berbagai hadiah untuk muridnya. Dari makanan ringan, pensil, buku, hingga celengan.

Anak-anaknya senang jika diberi hadiah. Ini dilakukan Helen agar esok harinya mereka akan semangat ke sekolah, bahkan mengajak yang lain kembali aktif bersekolah. Tak hanya di sekolah, sepulang dari mengajar dia juga tak segan mengunjungi satu per satu orang tua muridnya. Kunjungannya bisa di rumah atau ke ladang.

"Saya melihat bahwa peran orang tuanya untuk mendorong anak-anak sekolah juga harus ditingkatkan, makanya kita kunjungi satu per satu, menyatakan ke mereka kenapa mereka harus sekolah dan bagaimana seharusnya peran orang tua untuk menunjang pendidikan anak-anaknya," sebut ibu satu anak ini.

Hampir dua tahun mengajar di Komunitas Talang Mamak, Helen ikut merasakan hidup seperti komunitas. Makan makanan yang disediakan alam, daun ubi, pakis jantung pisang. Sesekali mereka turun ke sungai untuk mencari ikan dan juga kalau mendapat rezeki ketika komunitas mendapatkan hasil buruan, guru-guru sekolah juga mendapat bagian.

Kala rindu dengan keluarga atau ada hal penting yang perlu dikoordinasikan, selama berada di Datai, Helen harus keluar sekitar 1 jam naik motor, pergi ke Bukit Langkup yang juga dikenal dengan nama 'bukit sinyal'. Walau hanya ada dua balik sinyal dan cenderung putus-putus, cara berkomunikasi ini cukup mampu meredam kerinduan dan mengetahui kabar dari luar.

Karena jaraknya yang jauh, tentu juga, datang ke bukit ini hanya bisa dilakukan seminggu sekali.
Hampir dua tahun di Talang Mamak, Dinas Pendidikan Indragiri Hulu sudah berkomitmen menempatkan guru di Sekolah Marginal terhitung pada 2015-2016.

Berikutnya, tugasnya adalah mengajari anak-anak di pedalaman Jambi, khususnya di wilayah Sungai Terap, Kecamatan Bathin XXIV, Kab Batanghari, Provinsi Jambi. Terap terdiri dari empat Tumenggung Orang Rimba.

Sejak WARSI memfasilitasi pendidikan untuk komunitas adat marginal, Terap merupakan kelompok Orang Rimba yang paling terakhir mau menerima pendidikan walau hanya sebatas baca tulis dan hitung. Pendidikan di Terap baru bisa dilakukan pada tahun 2008, terbatas hanya anak laki-laki yang bisa ikut belajar di pondok belajar yang di bangun WARSI di pedalaman atau kadang mereka belajar di shelter yang dibangun TNI di batas hutan.

Kehadiran Helen di Komunitas Orang Rimba membawa paradigma baru bagi pendidikan Terap. Anak-anak perempuan yang menurut adat dan budaya orang rimba pantang untuk menerima segala sesuatu dari dunia luar.

"Saya datang saja ke kelompok itu, ngobrol-ngobrol dengan muridnya. Pokoknya belajar sambil mainlah, lama-lama ada juga anak perempuan yang mendekat, saya ajak bermain saja dulu, baru kemudian dikenalkan dengan buku-buku cerita, mereka tertarik juga dengan gambar yang warna warni, " kata Helen.

Untuk mengajarkan tulis baca, Helen juga punya trik dengan cara membacakan isi buku. Dengan demikian anak-anak suku pedalaman Jambi ini suka membacakan.

"Lama-lama mereka mau juga membaca sendiri, akhirnya diajarilah mereka mengenal huruf, tentu untuk melakukan ini kami izin dulu dengan tumenggungnya," sebut Helen.

Mengajar di Talang Mamak dan di Orang Rimba tentu Helen merasakan hal yang berbeda. Perbedaannya, di Talang Mamak sekolahnya cenderung sudah mulai dilakukan mengacu ke sekolah formal, ada jam belajar yaitu pukul 07.00 sampai pukul 11.00 siang setiap harinya. Walau kadang di luar jadwal itu juga bisa berfungsi sebagai guru privat bagi murid-murid yang mendatanginya. Di Talang Mamak juga sudah ada gedung sekolah berbahan kayu, meski kondisinya lumayan memprihatinkan karena banyak kerusakan terutama di atas sekolah.

Anak-anaknya sudah mengenakan pakaian meski belum semuanya yang datang ke sekolah berseragam dan beralas kaki. Sedangkan di Orang Rimba, pengajaran yang diberikan benar-benar pelajaran dasar, mengkal huruf dan angka. Juga tanpa gedung sekolah hanya pondok bahkan lebih sering belajar di antara pepohonan.

"Belajar anak Rimba kadang di sudung di dalam hutan, kadang juga bisa di antara pepohonan karet, jika orang rimba sedang berada di perkebunan karet, di mana anak-anaknya mau sajalah yang penting mereka mau belajar dan senang," ucapnya.

Sama halnya dengan Talang Mamak, di Terap pun kalau sedang bertugas Helen akan kembali jauh dari dunia luar, tak ada sinyal telepon ataupun listrik, semua berbaur dengan alam.

"Saya menikmati saja perjalanan hidup seperti ini, yang penting kehadiran saya memberi manfaat untuk masyarakat adat," pungkasnya.
(detik)

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »