Pilu! Ritual Suku Talang Mamak Terkubur Bara Hitam PT RBH

Dibaca: 34373 kali  Sabtu,15 Februari 2014
Pilu! Ritual Suku Talang Mamak Terkubur Bara Hitam PT RBH
Ket Foto : Kondisi hutan Inhu.
Rengat, (radarpekanbaru.com) - Pengalian besar-besaran yang dilakukan PT Riau Bara Harum (RBH) dengan menyobek permukaan bumi di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Riau, dalam perburuan batu bara menyisakan luka ekologis begitu parah yang sewaktu-waktu mengancam masyarakat tempatan.

Di awal Februari 2014, luka ekologis dengan membawa dampak buruk bagi alam dari eksploitasi PT RBH di Kabupaten Inhu setidaknya menghantui masyarakat yang tersebar di tiga blok tambang.

Seperti di Desa Sungai Arang, Kelurahan Pangkalan Kasai, Kecamatan Siberida dan dua desa di Kecamatan Batang Gangsal yakni Desa Siambul dan Kelesa.Di Desa Sungai Arang, hamparan permukaan bumi nan gersang pasca eksploitasi PT RBH terbentang di atas lahan yang luasnya sejauh mata memandang.

Bukit-bukit yang dulunya hijau oleh rimbunan pepohononan kini berganti dengan gundukan tanah tandus kering bebatuan.Kerusakan masif, seperti debu dan kematian ekosistem di kawasan itu terlihat jelas. Keangkuhan alat berat perusahaan yang menyobek permukaan bumi dalam perburuan batu bara kini menyisakan bekas tambang layaknya sebuah danau besar.

Tak satupun keanekaragaman hayati tumbuh di atas hamparan kawasan gersang tersebut selain rumput ilalang liar akibat hilangnya fungsi proteksi terhadap tanah.Dari atas bukit gersang tertinggi di kawasan bekas tambang PT RBH itu tampak sebuah anak sungai yang membelah hamparan gersang.

Bagi masyarakat setempat sungai tersebut diberi nama Sungai Kinutan. Dulu jelang alat berat menjamah dan mengeruk batu bara, aliran air sungai tersebut bening dan menjadi nadi kehidupan bagi warga.

Kini kondisi Sungai Kinutan sangat memprihatinkan. Selain diduga sudah tercemar limbah tambang, keberadaan Sungai Kinutan juga sudah diambang kepunahan. Pasalnya pasir bercampur batu kerikil bekas galian tambang yang ditinggalkan PT RBH sudah menutupi aliran sungai.

Salah seorang putra jati suku asli Talang Mamak, Riau, Juanda kepada wartawan menyatakan, kawah-kawah bekas tambang PT RBH yang sudah membentuk danau berisi air itu jumlahnya mencapai ratusan, terutama yang berada di tiga blok kawasan tambang.

Dimata Juanda yang juga anggota DPRD Inhu dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu, keganasan perburuan batu bara PT RBH tidak hanya mengubur Sungai Kinutan melainkan juga meluluhlantakan sumber penghidupan suku asli Talang Mamak di Inhu yakni dengan tercemarnya Sungai Gangsal.

"Sebagai masyarakat asli suku Talang Mamak, saya sangat mengenal bagaimana histrory Sungai Gangsal yang menjadi dulunya sumber penghidupan. Keberadaan Sungai Gangsal merupakan salah satu bukti dari rekam jejak perjalanan Suku Talang Mamak di Riau.Kini bukti sejarah itu seolah hanyut tergerus arus limbah tambang. Sungai tak lagi bening dan ikan pun sudah langka, " ujar Juanda.

Kegalauan masyarakat asli suku Talang Mamak di Inhu kian tak bertepi. Setiap kali mengadukan kerusakan lingkungan akibat ekploitasi tambang batu bara PT RBH selalu berujung tanpa solusi. Pihak perusahaan yang terus mengeruk jutaan ton batu bara dari perut bumi Inhu terkesan mengunakan sistem kaca mata kuda.

"Mereka tidak akan pernah peduli dengan kerusakan lingkungan dan hancurnya budaya suku Talang Mamak. Keberadaan mereka sama sekali tidak memberikan kontribusi positif bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi tambang. Kini keberadaan ratusan kawah bekas tambang tanpa reklamasi tersebut menjadi ancaman bencana alam seperti banjir air bah dan longsor yang menakutkan warga, " pungkas Juanda.

Ratusan kawah bekas tambang dengan kedalamam hingga ratusan meter yang  ditinggalkan begitu saja oleh PT RBH menjadi ancaman bencana ekologis yang mesti mendapat perhatian serius dari pemerintah kabupaten, provinsi hingga pusat. PT RBH menjadi mesin perburuan batu bara dibalik kehancuran lingkungan hidup terutama rusaknya hutan yang berada di lingkar tambang dan hilangnya lokasi di kawasan hutan tempat masyarakat adat melakukan ritual.

Diperparah lagi dengan menurunnya kualitas hidup dan kesehatan penduduk lokal seperti timbulnya berbagai macam penyakit, seperti asma dan penyakit kulit menjadi catatan hitam atas keberadaan PT RBH. (rac)
Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »