The Godfather (14): 1000% SBY Khianati Rakyat Dengan Cetak Uang Ilegal

Dibaca: 34548 kali  Kamis,06 Februari 2014
The Godfather (14): 1000% SBY Khianati Rakyat Dengan Cetak Uang Ilegal
Ket Foto : Ilustrasi
Radarpekanbaru.com - Inilah cara kerja mereka merampok uang rakyat Indonesia! Pemimpin Bedebah, bukan memikirkan nasib rakyat miskin, malah menyalahgunakan jabatannya. Lihat saja modus mantan Presiden Suharto dalam mencetak uang dollar ilegal melalui skandal BALI GATE sedangkan Presiden SBY melalui Century Gate untuk cetak rupiah, Naudzubillah!!

Bali Gate dan Century Gate Adalah Mesin Percetakan Uang Ilegal Rezim Penguasa

Skandal Century sebetulnya tidak ada, yang ada hanya mencetak uang secara ilegal.

Coba kita renungkan, ada beberapa pertanyan-pertanyan di otak kita terkait kasus yang menyita perhatian seantero jagat indonesia. Tapi apakah betul kasus century ini ada? Mari kita telusuri bersama.

- Mengapa terjadi silang pendapat antara pejabat BI sendiri tentang status uang 6,7 T?

- Mengapa ada perubahan tentang besaran kucuran hingga membengkak menjadi 6,7 T ?

- Mengapa para pejabat BI terkesan tutup mulut tentang apa sebetulnya yang terjadi ?

- Bagaimana sebetulnya mekanisme kebijakan yang ada di BI ? Bagaimana pula uang sebesar 6,7 T bisa tidak terlacak oleh lembaga kredibel seperti PPATK ?

- Mengapa jika kita pertanyakan satu persatu akan membuat kita semakin frustasi?

- Dan apa sebetulnya yang terjadi pada Bank Century?

Itulah sekelumit pertanyan-pertanyan diatas yang akan kita uraikan

Kita mulai dari Suharto & Bali Gate

1) Pada era mantan Presiden Suharto, ia pernah berusaha untuk mengajukan proposal ke The Bank International of Sattlement (BIS) sebagai usaha pengambilan hak cetak uang dan pengalihan asset. Tapi Otoritas keuangan dunia tersebut menolak pengajuan Soeharto dalam point pengambilalihan, hanya disetujui hak cetak uang dengan kolateral 6 dokumen daftar asset dengan nilai nominal 13.000 Trilyun.

2) Tahun 1996, diadakanlah tender untuk cetak uang yang diikuti 3 negara, yaitu Jerman, Israel dan Australia. Tender ini dimenangkan oleh Australia. Maka pada tahun 1996, Soeharto mengintruksikan kepada 49 orang Jenderal yang terdiri dari para Jenderal bintang 4, 3 dan 2 serta para pejabat teras BIN untuk melakukan kontrol dan pengawasan yang ketat terhadap proses pencetakan uang yang dilakukan di dua Negara, Australia dan Thailand.

3) Pada tahun 1997, proses pencetakan uang polymer pecahan 100 ribuan rupiah bergambar Soekarno senilai Rp. 13.000 Trilyun selesai dilakukan. Namun, baru hanya 9% dari total Rp. 13.000 Trilyun yang sudah diregistrasi oleh BI sebagai uang sah yang dapat digunakan sebagai alat transaksi.

4) George Soros dengan konsorsium yahudinya membombardir rupiah dengan melarikan rupiah ke luar negeri. Maka, terjadilah pembelian besar-besaran rupiah atas dollar sehingga mengakibatkan krisis ekonomi yang melanda negeri ini yang kita kenal dengan krisis moneter.

5) Tidak hanya itu,demi menyelamatkan harta Suharto, digunakanlah hak cetak itu untuk mencetak dollar dan tumbalnya di kala itu adalah Bank Bali yang dikenal dengan Bali gate. Coba perhatikan waktu krisis moneter,semua Bank collapse, hanya ada 1 bank yang selamat, yaitu BCA. Ya BCA karena BCA merupakan kerabat dekat Suharto. Tidak usah dijelaskan lagi siapa pemiliknya. Nilai rupiah tidak ada artinya sama sekali dihadapan dollar US.

6) Inilah awal malapetaka bangsa ini. Beribu-ribu peti uang yang belum diregistrasi oleh BI hanyalah lembaran kertas yang secara hukum merupakan uang illegal (uang tidak sah untuk dijadikan sebagai alat transaksi). Uang illegal yang kemudian dikenal dengan IDR (Instrument Deposit of Registered) ini banyak dikuasai oleh para pejabat teras TNI dan BIN serta para pejabat di lingkaran cendana.

Secara kasat mata, tidak ada perbedaan mencolok antara uang yang sudah diregistrasi dengan uang IDR. Perbedaan yang paling mendasar hanyalah terletak pada serangkaian NOMOR SERI.

NAMUN SIAPA YANG PEDULI DENGAN NOMOR SERI? PERNAH KAH KALIAN JIKA MENGAMBIL UANG MELIHAT DULU NOMOR SERI YANG TERTERA DI DALAM UANG?

Saya rasa tidak mungkin anda akan melihat nomor serinya, masyarakat umum hanya tahu bisa dipakai untuk belanja, asalkan sama-sama merah, sama-sama polymer, sama-sama 100.000, sama-sama bergambar Soekarno. Masalah legal dan illegal itu masalah sistem, bukan masalah fisik. Sangatlah berbeda dengan upal (uang palsu) yang memang sudah bermasalah dari sisi fisik.

Inilah celah yang banyak dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Sebanyak hampir 12.000 trilyun uang IDR menjadi ajang bisnis baru bagi orang-orang yang memiliki link dengan para Jenderal dan lingkaran Rezim Cendana dikala itu.

Tidak hanya menggunakan tangan orang lain, tak jarang sang jenderal pun turun langsung melakukan bisnis haram ini. Tengok kasus Brigjen (Purn) Zyaeri, mantan Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu BIN yang terjadi pada pertengahan 2005 lalu.

Sejak kemunculannya pada tahun 1999 lalu hingga kini, uang IDR selalu menjadi lahan subur untuk dijadikan ajang bisnis yang menggiurkan. Tak heran, "dana cadangan" ini selalu muncul di setiap event pesta demokrasi baik pilkada maupun pemilu, sponsorshipnya? Bisa terjadi karena si calon itu pensiunan jenderal yang mengetahui persis seluk beluk IDR, atau bisa tim pendukungnya yang memang lingkaran para jenderal.

Pertanyaannya, kok bisa? itukan uang illegal? yang mengatakan itu uang illegal kan sistem..!!

Modus Cetak Uang Ilegal Rezim SBY & Century Gate

Pada masa rezim Presiden SBY, praktek seperti ini tidak hanya dilakukan pada Bank Bali, tetapi juga pada Bank Century dan bank-bank konvensional lainnya pun kerap dilakukan modus sejenis.

1) Indikasi ini diperkuat dengan banyaknya dana "cadangan" yang tersimpan di Yayasan yang di komandoi Aulia Pohan, besan Presiden SBY sang mertua Agus Harimurti Yudhoyono. Dimana yayasan tersebut lebih berfungsi sebagai wadah penyimpanan uang yang dicetak mereka.

Sebagai gambaran, perhatikan semua presiden kita, hanya yang dari kalangan militer saja lah yang bertahan lama. Karena mesin cetak uang itu ada di tangan para kalangan militer. Suharto dan SBY adalah presiden yang langgeng menjabat. Yang lainnya berhenti di tengah jalan. SBY belajar dari Suharto bagaimana taktik ini digunakan.

Tapi SBY lebih kalem karena dia tidak mau terulang lagi diturunkan ditengah jalan seperti gurunya Suharto.

2) Modus rampok kelas pejabat ini terbongkar pasca tertangkapnya Aulia Pohan, ketua KPK saat itu Antasari Azhar pun dengan cepat bergerak membongkar jaringan ini. Pembelian mesin otomasi kliring (check clearing system) dan pemasukkan bahan baku kertas uang BI di Perusahaan Uang Republik Indonesia (Peruri) ditelusuri Antasari.

3) Modus lainnya lewat operator dan tim pelobi saat itu Deputi Gubernur BI Aulia Pohan, jaringan koruptor kelas kakap ini mengakali keuangan BI dengan dalih "demi" Yayasan Kesejehteraan Karyawan BI (YKKBI). Memang, dalam persoalan keuangan BI tidak pernah jadi masalah. BI hanya tinggal CETAK dan MEMBAGI-BAGIKANNYA sendiri.

4) Beginilah kisah korupsi Aulia Pohan yang dipercaya Syahril Sabirin untuk menilep duit BI sendiri. Dari Aulia Pohan uang 'dimainkan' lewat YKKBI. Caranya sederhana, yaitu dengan dalih untuk kepentingan karyawan BI dan YKKBI mempunyai kewenangan untuk menangani pemasukan barang dan mesin serta kesejahteraan karyawan lainnya. Maka, pemasukan barang dan mesin, seperti mesin otomasi kliring yang seharusnya lewat prosedur Sekretariat Negara diubah menjadi harus melalui YKBBI. Tentu saja, YKBBI, kemudian pura-pura menunjuk perusahaan swasta, di mana orang-orang BI berada di perusahaan tersebut.

5) Terkait pengadaan mesin otomasi yang harganya bisa mencapai ratusan milyar. Lewat keputusan BI, izin lewat Setneg pun di by pass dan dialihkan ke YKKBI. Karena lewat YKKBI, Aulia bebas menentukan cara apa mesin-mesin itu dibeli dan dimasukkan ke BI. Tentu saja, yang dipilih adalah penunjukkan langsung, tanpa tender terbuka. Perusahaan swastanya gampang ditunjuk, yaitu perusahaan kroninya. Harganya, juga tentu gampang diatur. Seenaknya saja Aulia pun menggelembungkan harga yang tidak semestinya dari harga pasarannya (mark up) sebesar 40 persen.

6) Kisah sukses Aulia Poham bermula ketika menjadi Wakil Kepala Perwakilan di Tokyo, Aulia Pohan ditarik pulang dan menjadi Kepala Urusan Penelitian dan Pengembangan Internal (1995-1997). Kemudian ia ditunjuk lagi menjadi Direktur BI dan sekarang menjadi Deputi Gubernur BI. Ia sangat dipercaya oleh Syahril Sabirin untuk melobi siapapun juga elit politik dan "memainkan" duit BI. Jabatan ini, sangat besar. Selain dekat dengan level elit BI, ia juga
bisa mengatur tata cara pembelian berbagai mesin dan pengadaan barang, termasuk mesin otomasi kliring dan kebutuhan kertas uang Peruri.

7) Dalam pembelian kertas pun sama saja. Tender resmi dibatalkan dan diganti perusahan pilihannya sendiri yang memenangkan tender tersebut, yaitu PT Pura. Padahal, PT Pura adalah perusahaan yang didirikannya sendiri bersama orang-orang BI, yang sampai sekarang belum diketahui namanya. PT Pura-lah yang kini memegang hak monopoli memasukan bahan baku kertas uang BI. Coba anda bayangkan berapa keuntungan yang diraih Aulia Pohan dan berapa ke Syahril Sabirin.

8) Yayasan karyawan instansi-instansi basah biasanya kaya raya. Di yayasan itulah tempat nyaman menyembunyikan uang curian.

Yang menjadi pertanyaan banyak orang, bagaimana sebuah yayasan karyawan mengumpulkan uang begitu banyak sehingga uang yayasan itu bisa diinvestasikan di sektor properti seperti Bidakara?

Setidaknya dibutuhkan dana sebesar Rp 500 miliar untuk membangun komplek Bidakara. Lalu pertanyaan berikut: berapa gaji karyawan Bank Indonesia sehingga mereka bisa mengumpulkan dana sebesar itu?

Sekali-sekali, cobalah mampir di komplek Bidakara, Kuningan, Jakarta
Selatan. Dari Pancoran, komplek gedung itu tampak megah. Komplek ini menempati tanah yang cukup luas di wilayah kelas satu yang berhimpitan dengan perumahan pejabat tinggi di kompleks Jl Denpasar, dan amat dekat dengan pusat bisnis Kuningan. Di komplek ini terdapat perkantoran bertingkat tinggi yang mewah dan hotel yang menjulang. Pemilik kompleks Bidakara, tak lain adalah Yayasan Dana Pensiun Bank Indonesia.

Ada sekitar 23 rekening dana non bujeter yang di miliki sejumlah departemen. Asetnya trilyunan rupiah.

9) Ada kabar paling gres tentang pundi-pundi sumber korupsi yang
terungkap di gedung MPR DPR Senayan. Informasi itu menyebutkan, bahwa
sampai saat ini ada sekitar 23 rekening dana nonbujeter yang berada di sejumlah departemen belum dimasukkan ke dalam kas anggaran negara. Rekening tersebut bersumber dari sejumlah departemen dan lembaga non departemen.

10) Bank Indonesia juga mempunyai yayasan pundi-pundi yang asetnya amat sangat besar. Bahkan Yayasan Kesejahteraan Karyawan BI mampu membangun perusahaan pencetak uang di Kudus. Berkolusi dengan percetakan PT Pura Barutama, YKKBI membuat PT Pura Binaka Mandiri sekitar dua tahun belakangan. Produk perusahaan ini adalah kertas uang dan security printing.

11) Order pertama kali datang dari Somalia untuk mencetak salah satu jenis mata uang mereka. Kabarnya YKKBI juga mempunyai sejumlah bidang usaha lain sebagai pemutar uang miliknya.

12) Dana-dana yayasan atau apapun namanya itu merupakan pundi-pundi yang siap digunakan untuk melanggengkan kekuasaan atau bahkan kepentingan pribadi para pejabat. Golkar selama rezim suharto juga memanfaatkan pundi-pundi itu untuk menggemukkan organisasinya. Golkar pun sering mendapat "sumbangan" miliaran rupiah dari para menteri kadernya untuk kepentingan kampanye, juga diambilkan dari dana-dana ini.

13) Tugas dari lembaga-lembaga itu sebagai pengumpul "sumbangan" yang dikeruk dari rekanan mereka. Memang, model pungutan dan lembaga pundi-pundi ini merupakan strategi Soeharto dalam mengumpulkan uang untuk keabadian kekuasaannya. Soeharto sendiri adalah pendiri puluhan yayasan yang mempunyai aset milyaran bahkan trilyunan rupiah, dan sampai saat ini tak satupun yang tersentuh hukum.

14) Dengan mencetak uang triliyunan rupiah dan dipaksakan masuk ke dalam bank kecil yang bernama century, sudah pasti akan anjlok. Itulah sebabnya ketika kasus Century meledak ke publik, banyak rekening-rekening masyarakat yang tiba-tiba bertambah. Di Makasar seorang tukang bengkel tiba-tiba di rekeningnya terdapat miliaran rupiah. Uang itu secara otomatis akan berpindah setiap jamnya (numpang lewat atau pinjam rekening sementara).

15) Perhatikan sekali lagi, disetiap mendekati pemilu maka pasti akan terjadi krisis moneter bukan? karena uang ini dicetak khusus ajang pesta demokrasi. Jika uang dicetak melewati batas maka akan terjadi inflasi bukan? sehingga Terjadilah krisis moneter pada thn 1998 dan 2008.

Perhatikan sekali lagi, disetiap mendekati pemilu maka pasti akan terjadi krisis moneter bukan? karena uang ini dicetak khusus ajang pesta demokrasi.

16) Itulah juga sebabnya Partai Demokrat tidak akan gentar dengan kasus Century, karena memang Century itu tidak ada, yang ada hanya lah mencetak uang dengan mengorbankan nasabah-nasabah tak berdosa untuk dijadikan pencucian uang.

Betapa Mirisnya Rakyat Indonesia! Dikhianati Pemimpin Terus Menerus

Antasari Azhar pernah berkata dalam testimoni tentang century. "Saya tidak tau yang namanya Century, tapi modus dan cara kerja mereka yang saya ketahui"

Ketika mantan Deputi Bank Indonesia Aulia Pohan ditangkap oleh Antasari Azhar, maka modus ini terbongkar. Dari Aulia Pohan lah sumber-sumber percetakan uang tersebut akan di telusuri Antasari. Tapi apa mau dikata, Antasari di hajar dari segala penjuru.

Jika Antasari dapat membongkar ini, maka bisa kita bayangkan banyaknya manusia-manusia rakus yang akan masuk ke penjara, dari generasi Orde Baru hingga sekarang. Bagaimana mungkin seorang Antasari sendirian sanggup menghadapi segerombolan pejabat dan mantan pejabat dari jaman Orba hingga sekarang. Alhasil Antasari pun dibungkam.

Kasihan rakyat, terus menerus dibodohi demokrasi dan pemimpin korup!

Sumber : Voaislam.com
Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »