Kongres I IKA UIN Suska Riau

Anak Kampung Asal Sungai Tohor Terpilih Sebagai Ketua Umum IKA UIN Suska Riau

Dibaca: 22672 kali  Sabtu,24 Desember 2016
Anak Kampung Asal Sungai Tohor Terpilih Sebagai Ketua Umum IKA UIN Suska Riau
Ket Foto : Para Kandidat Ketum IKA UIN Suska salam kompak dengan KH.Tarmizi Tohor yang terpilih secara Musyawarah Mufakat sebagai Ketua Umum IKA UIN Suska Riau 2016 -2021..

RADARPEKANBARU.COM-Kongres I Ikatan Keluarga Alumni UIN Suska Riau yang di gelar di Gedung Islamice Centre UIN Suska Riau, Sabtu, (24/12/2016) menghasilkan keputusan dengan terpilihnya Tarmizi Tohor sebagai Ketua Umum Periode 2016-2021, pria yang sekarang menjabat sebagai Direktur Zakat Dan Bimas Islam Kementerian Agama RI di Jakarta.

Terpilihnya Tarmizi Tohor dalam Kongres sekira pukul 17.30. Wib, atas musyawarah mufakat antara sejumlah kandidat yang lolos melaui penjaringan usulan nama dari perwakilan seluruh Fakultas.

Berikut sejumlah nama yang lolos dalam sebagai kandidat :

1. Tarmizi Tohor (Birokrat)
2. Repol (Politisi Golkar)
3. Kharuidin (Wiraswasta)
4. Asnaldi (Wiraswasta/ Politisi PDIP)
5. Muamar Khadafi (Dosen)
6. Abu Nazar (wartawan)
7. Herman Moyan (Wiraswasta)
8. Sudianto (Dosen)
9. Tamarudin (Politisi PKS)

Sidang yang dipimpin Hasanul Hakim diskor selama 2 x 2 menit untuk ,memberikan waktu kepada sejumlah kandidat agar bermusyawarah untuk memilih ketua Umum.

Skors sidang kembali dicabut, sampai akhirnya perwakilan sejumlah kadidat menyampaikan keputusan bahwa telah bersepakat menunjuk Dr. KH Tarmizi Tohor sebagai ketua Umum untuk memimpin IKA UIN Suska Riau selama lima tahun kedapan.

"Kongres I IKA UIN Suska Riau memutuskan Tarmizi Tohor Sebagai Ketua Umum" kata Hasanul Hakim selaku pimpinan sidang membacakan keputusan akhir kongres, yang langsung disambut tepuk tangan oleh sejumlah peserta sidang.

Sebagaimana diketahui Kongres dibuka Rektor UIN Suska Riau Prof. Dr H. Munzir Hitami, tanpa kehadiran Gubernur Riau.

Gubernur Riau ,Andi Rachman hanya mengutus Asisten lll Pemprov Riau, namun panitia Kongres mengusirnya. Panitia kecewa dan menganggap Andi Rachman tidak menghargai almamater UIN Suska Riau.

Acara pembukaan juga dihadiri oleh para alumni IAIN dan UIN Suska Riau, diantaranya Wan Abu Bakar mantan Gubernur Riau, Tarmizi Tohor, Abdul Gafar Usman, Nasir Kholis, terlihat juga sejumlah politisi dan beberapa tokoh alumni UIN Suska Riau.

Rektor UIN Suska Riau Dr Munzir Hitami, dalam sambutannnya menyambut baik pelaksanaan Kongres IKA UIN Suska Riau. Dengan pelaksanaan Kongres akan terbangun sebuah jamaah dalam organisasi IKA UIN Suska Riau.

Kongres IKA UIN hendaknya menjadi organisasi yang kuat dan independen, bisa menjadi mitra Kampus, perguruan tinggi belum lengkap rasanya kalau belum ada IKA kata Rektor.

Semoga mendapatkan hasil yang baik dan terpilihnya Ketua IKA UIN Suska dan ad/art sehingga menjadi organisasi yang mempunyai badan Hukum.

KH. Tarmizi Tohor ketua terpilih dalam perbincangan dengan Radar Pekanbaru, mengatakan bahwa mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mempercayakan dirinya untuk memimpin IKA UIN Suska Riau.

Ia juga berjanji akan mejaga nama baik Alumni, serta akan bahu membahu bersinergi dengan Civitas Akademika untuk membesarkan UIN Suska Riau.

"Janji saya yang pertama akan membantu memfasilitasi pembentukan Fakultas Kedokteran" kata Tarmizi , budak melayu kelahiran Sungai Tohor selat Panjang ini.

Mantan Kanwil Kemenag Riau ini juga berencana acara pelantikan nanti akan dibuat meriah dan lebih ramai.

Terkait dimintai pendapat atas ketidak hadiran Gubernur Riau Andi Rachman dicara Kongres I IKA UIN Suska Riau ia hanya tersenyum selanjutnya menjawab, Gubernur akan datang pada acara pelantikan.

" Kalau saya yang undang nanti pada acara pelantikan pasti Gubernur datang, dia kenal saya, Insyaallah semua clear kembali" tuturnya.

Tarmizi dikenal sebagai sosok yang supel, mudah bergaul, dan sangat cair. Bahkan bagi orang yang tidak kenal sekalipun akan merasa nyaman bersamanya, karena kepribadiannya yang friendly.

Ini juga yang membuat sejumlah kadidat Ketua Umum menyerahkan jabatan kepada Tarmizi Tohor.

"Saya selama ini tidak kenal dia (Tarmzi,red) secara dekat, namun hanya ketemu  di arena kongres, orang ini saya perhatikan pandai bergaul dan saya secara pribadi menyatakan mendukungnya, namun ternyata semua teman teman kandidat yang lain juga berpendapat yang sama, akhirnya kami sepakat memilihnya" Kata Muamar Khadafi salah seorang kandidat Ketua Umum IKA UIN Suska Riau.
 
Dikutip dari portal kemenang Bimas RI (bimasislam.kemenag.go.id), Tarmizi dibesarkan dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan, Tarmizi kecil dididik oleh bapaknya agar menjadi pribadi yang tidak mudah marah, punya sifat egaliter, tegar, dan tidak mudah putus asa.
 
“Saya memiliki tiga prinsip hidup. Pertama, kerja keras. Kedua, ikhlas. Ketiga, tidak berprasangka buruk kepada orang lain”, ujarnya lugas.
 
Menurut bapak dari empat putra-puteri ini, hidupnya selama ini dilalui dengan kerja keras untuk meraih cita-cita. Berasal dari desa yang sangat jauh dari kota, dekat dengan sungai “Tohor”, pak Tarmizi terbiasa dengan tempaan yang keras dan bersentuhan dengan masalah kehidupan sehari-hari. Baginya, hidup itu harus dijalani dengan bersungguh-sungguh dan fokus. Dia tidak punya mimpi yang muluk-muluk, perjalanan karirnya mengikuti arahan takdir.

Baginya, menikmati kerja dengan ikhlas sebagai ibadah tanpa perlu banyak mimpi akan lebih menyenangkan dan menentramkan. Itu sebabnya, sejak masih mengabdi sebagai  pendidik, ia tak pernah bermimpi akan menjadi kepala Kankemenag, apalagi menjadi kepala Kanwil  atau Direktur seperti saat ini.

“Bekerja itu ikhlas saja, mengerjakan sesuatu dengan ikhlas itu nothing to lose. Tidak akan ada ruginya. Itu makna pengabdian dalam pekerjaan kita,” ujarnya.
 
Pencapaiannya hingga duduk di bangku eselon II di lingkungan Ditjen Bimas Islam seumpama anak tangga. Bermula dari bawah, tangga itu dimulai dari profesinya sebagai guru olah raga di sebuah sekolah paling pelosok di Kepulauan Riau, kemudian menjadi kepala Kandepag, hingga menjabat sebagai pimpinan di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau, dan kini menjadi Direktur Pemberdayaan Zakat.
 
Dulu, saat hendak mengajar ia persis seperti Umar Bakri yang digambarkan oleh musisi Iwan Fals dalam lagunya. Dengan mengenakan seragam safari, Tarmizi muda mengayuh sepeda menuju sekolah tempat ia mengabdi. Bukan hanya itu, sepedanya pun harus ikut menyeberang naik perahu, kemudian ia kayuh lagi di pulau seberang dengan tujuan mulia: mendidik anak-anak di kepulauan.
 
Meski sangat jauh layaknya tinggal di pelosok, ia tak mudah mengeluh. Hal ini karena sejak kecil Pak Tarmizi tumbuh dalam kondisi seperti itu. Saat menempuh pendidikan di sekolah dasar, ia  terbiasa berjalan sejauh lima kilometer menuju sekolah, dan pulang kembali sejauh jarak yang sama. Demikian bertahun-tahun lamanya.
 
Perjalanannya mengabdi sebagai ASN yang berawal dari pelosok kepulauan Riau itu, serta besar dalam kehidupan yang mandiri sejak kecil – bahkan mengaduk semen sebagai tukang bangunan pun pernah ia lakoni— menjadikan ia sadar bahwa keberadaan orang lain dalam eksistensi bekerja merupakan hal yang penting.
 
“Saya ini orang kampung. Dari ibukota kabupaten, kampung saya bahkan tak bisa dilalui oleh kendaraan darat, harus melalui laut. Bahkan belum lama ini, presiden pun harus menggunakan helikopter untuk menjangkau kampung saya. Saya terbiasa kerja keras sejak kecil,” kenangnya.
 
Oleh karena itu, Pak Tarmizi punya cara pandang tersendiri dalam memposisikan pegawai di lingkungan ia bekerja. Ia selalu berpandangan bahwa tanpa kehadiran orang lain, dirinya bukanlah siapa-siapa. Staf baginya adalah aset, kehadiran staf adalah untuk bekerjasama mencapai goal dari organisasi yang ia pimpin. Untuk itulah, kerjasama dan sama-sama bekerja menjadi keharusan baginya.
 
Satu prinsip yang ia akui sebagai sifat positif sekaligus menjadi kelemahannya adalah ia tak pernah menaruh buruk sangka pada orang lain. “Saya selalu berbaik sangka pada siapa pun, termasuk pada mereka yang tidak saya kenal. Saya yakin, prasangka baik adalah pengamalan ajaran agama,” katanya.
 
Meski dikenal sebagai pribadi “yang tidak bisa diam”, saat ditanya tentang hobi, pria yang dilantik sebagai Direktur Pemberdayaan Zakat pada 19 Februari 2016 itu justru mengaku punya hobi yang mengharuskan seseorang untuk diam: memancing.
 
Rupanya, Pak Tarmizi mengaku pada saat memancing itulah ia punya waktu untuk sejenak mengistirahatkan otaknya di tengah rutinitas pekerjaan yang memeras tenaga dan pikiran. Kesempatan memancing baginya, seumpama charging bagi battery. “Saya senang memancing, itu adalah saat dimana saya bisa mengistirahatkan otak saya sejenak di tengah pekerjaan yang demikian banyak.”
 
Saat ini, sebagai pimpinan pada direktorat yang concern pada pemberdayaan zakat nasional, pikirannya tertuju pada bagaimana menyerap dan mengembangkan potensi zakat nasional yang mencapai angka  Rp 217 Trilyun per tahun. Tentu saja bukan pekerjaan mudah di tengah kesadaran berzakat masyarakat Indonesia yang belum terlalu menggembirakan. Tren penerimaan zakat memang terus naik dari tahun ke tahun, namun jika dibandingkan dengan potensi zakat nasional yang sangat besar, penerimaan zakat melalui lembaga pengelola kredibel memang masih jauh panggang dari api.
 
Untuk itulah, menutup perbincangan dengan bimasislam, Pak Tarmizi berpesan kepada masyarakat agar membayarkan zakatnya melalui lembaga-lembaga yang sudah diakui pemerintah. Karena selain lebih tertib, pembayaran zakat melalui lembaga kredibel juga lebih memudahkan pendataan, plus, distribusi zakat oleh lembaga-lembaga tersebut juga lebih merata.
 
“Saya mengimbau agar masyarakat menyalurkan zakatnya melalui lembaga yang kredibel. Agar masyarakat tidak lagi membagi-bagikan zakat secara langsung kepada umat, karena punya risiko dan tidak tertib.” pungkasnya. (radarpku)

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »