Seorang Petani Asal Riau , Suryono Jadi Pembicara Soal Perubahan Iklim Di Maroko

Dibaca: 19817 kali  Selasa,08 November 2016
Seorang Petani  Asal Riau , Suryono Jadi Pembicara Soal Perubahan Iklim Di Maroko
Ket Foto : Seorang petani dari Provinsi Riau bernama Suryono menjadi salah satu pembicara pada Konferensi Tingkat Tinggi PBB Perubahan Iklim atau COP-22 di Maroko

RADARPEKANBARU.COM- Seorang petani dari Provinsi Riau bernama Suryono menjadi salah satu pembicara pada Konferensi Tingkat Tinggi PBB Perubahan Iklim atau COP-22 di Maroko, sebagai petani yang sukses karena beralih dari praktik pertanian yang mendegradasi lingkungan, menuju ke pengelolaan lahan hutan berkelanjutan.

"Perasaan saya sangat bangga karena petani kecil seperti saya, bisa didengar di luar negeri. Semoga apa yang saya lakukan bisa jadi contoh orang lain," kata Suryono ketika dihubungi wartawan via aplikasi telepon seluler, dari Pekanbaru, Selasa (9/10).

Ia menjelaskan, dirinya diundang menjadi salah satu pembicara dalam salah satu sesi KTT PBB COP-22 dengan topik "Putting People at the Centre - Climate Friendly Forest Based Livelihood", bertempat di Paviliun Indonesia, Bab Ighli Marrakesh, Maroko, pada pada Senin (7/11) pukul 16.00 waktu setempat. Ia berada di satu panggung bersama Amy Duchelle perwakilan dari CIFOR (Center for International Forestry Research), Sonya Dewi Koordinator Indonesia untuk ICRAF-CGIAR, dan Dr. Hadi Daryanto Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Cita-cita saya berbicara disini (forum dunia), agar menjadi inspirasi bagi petani lainnya, bahwa mengelola lahan dengan cocok tanam jauh lebih bermanfaat dibanding apa yang saya lakukan dulu," katanya.

Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, tahun 1975 ini dinilai menjadi contoh petani yang berhasi melakukan mitigasi perubahan iklim dengan bertani holtikultura, menjadi informan titik api, dan turut andil menjaga lingkungan serta mencegah tejadinya kebakaran lahan dan hutan.

Suryono mengisahkan perjalan hidupnya yang beralih dari petani kelapa sawit menjadi menanam holtikultura. Dari kampung halamannya di Medan, ia merantau ke Dusun Sukajaya Kampung Pinang Sebatang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, pada tahun 2000 hingga sekarang. Di sana ia tinggal bersama istri dan tiga orang anak.

Pekerjaan awalnya sejak tahun 2000 adalah bercocok tanam kelapa sawit, di Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak pada 2007. Suryono pada 2013 menyadari bahwa bertani hortikultura lebih menguntungkan ketimbang sawit. Ia mengambil keputusan nekat dengan menumbangkan seluruh tanaman sawit di kebun dua hektare miliknya, dan menggantinya dengan tanaman holtikultura.   

Beberapa jenis sayuran yang mulai ditanam Suryono antara lain kangkung, bayam, cabai, melon, semangka, kacang panjang, timun, pepaya, dan jagung. Banyak orang menduga dirinya sudah gila karena dalam benak masyarakat setempat, menanam sayuran tidak menguntungkan. Ia mengakui awalnya memang tidak mudah ketika masuk ke pasar tradisional, karena harus berhadapan dengan para tengkulak, yang sudah lama beroperasi untuk memasok komoditas tersebut dari Kota Pekanbaru.

Namun, kerja keras Suryono mulai membuahkan hasil setelah berjualan sekitar satu tahun, sehingga banyak petani yang mulai mengikuti langkahnya untuk menanam sayuran dan menjualnya langsung ke pasar.

Ketika menjadi petani sawit dengan lahan dua hektare, Suryono mampu meraih penghasilan maksimal sekitar Rp2 juta-Rp3 juta per bulan. Namun, kini dengan mengolah lahan setengah hektare untuk ditanami sayuran, ia berhasil meraup penghasilan sekitar Rp15 juta per bulan. Bahkan, pada lahan yang sama itu, Suryono bisa mempekerjakan sembilah orang warga setempat.

"Bercocok tanam sayur mayur, dan buah buahan bagi saya menyenangkan, selain menjaga kelestarian lingkungan juga mensejahterakan kehidupan saya," katanya.

Suryono mengatakan dirinya juga aktif dalam kegiatan Progam Desa Makmur Peduli Api (DMPA) di daerahnya. Tujuan DMPA adalah praktik pertanian yang berjalan beriringan dengan konservasi lingkungan, meliputi hutan alam dan Hutan Tanaman Industri (HTI), termasuk pencegahan kebakaran hutan melalui peran aktif komunitas lokal.

Peran Suryono akhirnya diakui oleh Pemerintah Kabupaten Siak melalui penghargaan Adikarya Pangan Nusantara 2015, dan Petani Terbaik Siak Bidang Hortikultura 2016. Keberhasilan Suryono kini dianggap menjadi inspirasi bagi petani lain, sehingga membawanya untuk menghadiri KTT PBB COP-22 di Marrakesh, Maroko, pada 7-18 November 2016. Forum COP-22 membahas pelaksanaan teknis dari Kesepakatan Paris COP-21, yang diselenggarakan tahun lalu.

"Saya memang petani kecil di Riau, tapi perubahan yang terjadi dalam hidup saya amatlah besar," pungkas Suryono. (ant)


 

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »