Rantau Ikan Larangan Lubuk Ingu Nan Unik di Rohul, Riau

Dibaca: 29793 kali  Kamis,12 Februari 2015
Rantau Ikan Larangan Lubuk Ingu Nan Unik di Rohul, Riau
Ket Foto : Tari Persembahan
RADARPEKANBARU.COM-Lubuk Ingu adalah sebuah dusun di daerah Cipang Kiri sebuah desa di Rokan IV koto. Kesan pertama memasuki daerah ini adalah ke asrian daerahnya yang jauh dari hiruk pikuk teknologi dan pencemaran lingkungan. Ditengah hutan di kaki bukit barisan yang menjulang tinggi tersimpan satu tradisi unik dalam rangka melestarikan budaya dan menjaga kelestarian alam wilayahnya tersebutlah tradisi "Membuka Ikan Larangan" sebagai momen panen ikan di sungai mentawai yang berbatas mantra dan do'a larangan.


Foto : Foto Lokasi Rantau Ikan Larangan diambil dari lereng bukit pemukiman warga


Berhembuslah angin malam yang akan membawa anda menyusuri jalan yang sudah dilebarkan di saat menjelang PON Riau 2012 yang lalu,tidak jauh dari Lubuk Ingu juga terdapat satu Venue PON untuk cabang olah raga Terbang Layang, patutlah daerah ini dulunya menjadi pilihan untuk venue cabang oleh raga terbang layang karena jalan yang di lalui seperti sangat terjal dengan pendakian yang menantang, tebing-tebing cadas terlihat di lereng jalan dan di sisi lain jurang dalam mengintai kewaspadaan mobil doble gardan yang kami kendarai. Kalau kesana anda bisa menembus jalan itu dan sampai ke Lubuk Ingu untuk langsung bercengkerama dengan masyarakat yang ramah dan sopan dalam keasrian adat.


foto : Achmad Bupati Rohul Panen ikan


Tertutur dari cerita warga maka anda bisa berbagi informasi perihal Rantau Ikan Larangan ini. Sungai Mentawai disebut juga anak sungai rokan yang mengalir jernih dipagari hutan rimbun di kaki bukit yang menjulang terjal menjadi rumah yang nyaman bagi kawanan ikan sungai. Berangkat dari keinginan pelestarian alam inilah kemudian para pemangku adat / ninik mamak membuat satu area dengan panjang kurang lebih 1 KM yang dilarang untuk diambil ikannya dengan cara apapun sebelum acara adat panen dilaksanakan.

Mantra dan do'a pembatas pun ditanam di sungai larangan tersebut yang konon jika ada yang mengambil ikan di wilayah larangan tersebut maka ia akan tertimpa bala berupa penyakit non medis yang hanya bisa disembuhkan melalui upacara adat ninik mamak. Pagar Mantera dan do'a tadi juga mampu menjadikan ikan-ikan yang masuk ke daerah larangan ini seperti jinak sehingga beberapa team kami merasa geram ingin menangkapnya jika tidak ingat bala yang diceritakan warga.

Ketatnya peraturan adat berkaitan dengan Rantau ikan larangan ini akhirnya mampu mempertahankan sungai tetap asri terpelihara. Tradisi "Rantau Ikan Larangan" ini juga mampu menjadikan daerah ini mendapatkan beberapa penghargaan tingkat Propinsi maupun tingkat nasional bahkan satu penghargaan tingkat Internaisonal didapat dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. (radarpku)




sumber : http://honda-rohul.blogspot.com
Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »