Trump Akui Pemerintahannya Berakhir

Dibaca: 2803 kali  Sabtu,09 Januari 2021
Trump Akui Pemerintahannya Berakhir
Ket Foto :

WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk pertama kali mengakui kekalahannya di depan kamera, Kamis (7/1) malam waktu AS. Sementara itu, dua orang menteri mengundurkan diri setelah massa menyerbu gedung Capitol Hill, tempat parlemen berkantor, sehari sebelumnya.

 

"Pemerintahan baru akan dilantik pada 20 Januari," ujar Trump di video.  "Fokus saya sekarang adalah memastikan transisi kekuasaan yang mulus, sesuai aturan, dan tanpa ganjalan. Momen ini saatnya penyembuhan dan rekonsiliasi," katanya melanjutkan.

 

Dalam video yang direkam di Gedung Putih, ia juga mengecam kekerasan di Capitol Hill yang mengatasnamakan dirinya. Namun, ia masih tak menyebut nama presiden terpilih AS, Joe Biden, atau menyatakan secara eksplisit bahwa ia telah kalah.

 

Pengakuan ini keluar di tengah meningkatnya dorongan untuk pemakzulan Trump yang kedua kalinya atau bahkan mengaktifkan amendemen ke-25 Konstitusi AS untuk melengserkannya. Muncul spekulasi bahwa rekaman video itu adalah upaya untuk menangkis gagasan pemakzulan dirinya.

 

Massa pendukungnya menyerbu gedung Capitol Hilll, Rabu, setelah muncul seruan Trump. Ia menyerukan pendukungnya membatalkan hasil penghitungan suara pemilihan presiden di parlemen. Di tengah kerusuhan para pendukung Trump di Capitol Hill, sang presiden seolah bersembunyi di Gedung Putih. Ia pun harus menerima pengunduran diri sekurangnya sembilan petinggi pemerintahannya termasuk dua menteri.

 

Menteri Pendidikan Betsy DeVos dan Menteri Perhubungan Elaine Chao mengundurkan diri pada Kamis. Chao, yang bersuamikan Senator Republik Mitch McConnell, mengatakan, serangan kekerasan di Capitol sebagai penyebab keputusannya mundur. Ia mengaku, serangan itu "amat mengusik saya dan ini tidak bisa saya kesampingkan."

 

Sedangkan, DeVos dalam surat pengunduran dirinya, menyalahkan Trump karena menghasut kerusuhan. "Tidak salah lagi, dampak dari retorika Anda terhadap situasi itu, dan itu menjadi titik balik bagi saya," tulisnya. Mick Mulvaney, utusan khusus AS untuk Irlandia Utara dan mantan kepala staf Gedung Putih, mengatakan, banyak petinggi Gedung Putih yang bimbang antara bertahan atau keluar. Ini dibeberkannya saat ia mengumumkan pengunduran dirinya.

 

"Banyak orang menimbang-nimbang, jika saya mundur hari ini, siapa yang akan menduduki kursi saya dan apakah itu lebih baik atau malah lebih buruk?" kata Mulvaney kepada CNBC. Sejumlah petinggi Gedung Putih dan lembaga pemerintah mengaku gamang dengan jabatan mereka. Mereka khawatir, jika mundur, Trump hanya akan dikelilingi orang-orang yang mendukung tindakannya.

Keamanan Capitol

Insiden penyerbuan di Capitol Hill menimbulkan sederet pertanyaan mengenai keamanan gedung tersebut. Terlebih, seorang polisi tewas akibat luka setelah ia berhadapan fisik dengan massa. Empat orang dari massa meninggal dunia setelah bentrok dengan petugas keamanan.

 

Insiden itu mengguncang dunia dan memaksa tiga petinggi keamanan Capitol mundur karena gagal menghentikan serbuan. Anggota parlemen juga menuntut dilakukan peninjauan atas operasi pengamanan. Mereka juga menuntut Biro Investigasi Federal (FBI) menjelaskan insiden mereka sebut sebagai "serangan teroris".

 

Sumber yang dikutip Associated Press menyebutkan, tiga hari sebelum insiden, Kementerian Pertahanan sempat menawarkan bantuan kepada polisi Capitol Hill. Namun, tawaran ini ditolak. Ketika kerusuhan mulai meletup, Kemenhan kembali menawarkan agen FBI. Namun, polisi Capitol Hill kembali menolak tawaran ini. 

 

Gedung Capitol Hill di Washington, DC, Amerika Serikat, kini dikelilingi pagar tinggi, Kamis (7/1). Kini pertanyaan mengemuka, akankah pelantikan presiden terpilih Joe Biden pada 20 Januari di gedung itu dapat terhindar dari risiko keamanan serius. (rep)

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »