Sejumlah Ornop di Riau Berkumpul Desak Pemerintah Segera Atasi Bencana Kabut Asap

Dibaca: 5274 kali  Minggu,15 September 2019
Sejumlah Ornop di Riau Berkumpul Desak Pemerintah Segera Atasi Bencana Kabut Asap
Ket Foto : Sejumlah Pengurus Ornop di Riau Berkumpul

RADARPEKANBARUCOM--Kualitas udara di Provinsi Riau kian meburuk karena dampak asap serta polutan kebakaran hutan dan lahan dari sejumlah wilayah di Kabupaten Kota se-Riau.

Sejumlah lembaga di Riau bertekad untuk hilangkan masalah asap, mengingat masalah asap adalah pekerjaan rumah (PR)  bersama rakyat Riau, bukan hanya tugas satu institusi. 

Demikian disampaikan Wakil Ketua APDESI Riau, Herman Yahya, minggu (15/09/2019) sore 

Herman mengajak setiap elemen untuk turun langsung berjibaku memadamkan api yang terus merambat di lahan dan hutan. Agar pihak terkait jangan sibuk tuding menuding salah menyalahkan. 

"Mari kita kerja keras untuk padamkan api, jika perlu kedepan harus ada reward bagi desa yang diwilayahnya tak ada kebakaran hutan,  dan sebaliknya memberi sangsi jika ada kebakaran hutan diwilayahnya", kata herman.

Ditempat yang sama Sekjen Forum Ornop Riau (FORRI) Dahnil Hidayat Pasai juga mengungkapkan kekesalannya terhadap kabut asap di Riau.

"Sebagai rakyat Riau kami dengan senang hati menunggu kedatangan Presiden, sudah jadi kebiasaan jika Presiden RI turun kelokasi kabut asap hilang seketika," kata Dahnil.

Selanjutnya Ketua Rumah Pergerakan Bangun Desa (RPBD) Asri Antoni mengajak seluruh aparatur di Riau ikut turun serta memadamkan api, jangan berdiam diri. 

"Mari kita dukung Gubri untuk menuntaskan kasus asap di Riau secara partisipatif konkrit sampai asap hilang. Serta minta Kepala Desa mempelopori pemadaman prioritas bagi Desa yang ada titik api nya," tegas Asri Antoni. 

Sebagaimana diketagui berdasarkan data Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sumatera Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Dinas LHK Provinsi Riau pada pukul 07.00 - 15.00 WIB Sabtu, mencatat indeks standar pencemar udara (ISPU) tertinggi di wilayah Pekanbaru 269.

Selanjutnya angka ISPU diikuti Dumai 170, Rohan Hilir 141, Siak 125, Bengkalis 121, dan Kampar 113. Angka tersebut mengindikasikan kondisi kualitas udara tidak sehat atau penunjuk angka 101 - 199. Sehari sebelumnya yaitu Jumat (13/9), kualitas udara di wilayah Riau pada kondisi sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Data juga menunjukkan kualitas udara di provinsi lain dalam kategori tidak sehat dan sehat seperti Jambi 123, Kepulauan Riau 89, Sumatera Selatan 51, Sumatera Barat 46, dan Aceh 14.

Kualitas udara yang diukur dengan ISPU memiliki kategori baik jika nilainya berada di kisaran 0 - 50, sedang 51 - 100, tidak sehat 101 - 199, sangat tidak sehat 200 - 299, dan berbahaya jikalebih dari 300.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana bersama kementerian-lembaga, TNI-Polri mengerahkan personel untuk penanganan di beberapa provinsi. Tujuh helikopter untuk pengeboman air dan patroli dikerahkan di wilayah Provinsi Riau.

Sejak 19 Februari 2019 hingga 31 Oktober lalu, lebih dari 124 juta liter air diguyurkan untuk pengeboman air dan lebih dari 159 garam untuk operasi hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Luas lahan terbakar akibat karhutla di wilayah Riau menurut catatan BNPB yaitu seluas 49.266 hektar. Sejumlah luas lahan terbakar lahan gambut seluas 40.553 ha dan mineral 8.713 ha.

(rls)

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »