Warga Pekanbaru Tutup Paksa Sekretariat Ormas Diduga LGBT

Dibaca: 5769 kali  Rabu,16 Januari 2019
Warga Pekanbaru Tutup Paksa Sekretariat Ormas Diduga LGBT
Ket Foto :

RADARPEKANBARU.COM.Sekretariat Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) Riau yang berkantor di Kelurahan Air Putih, RT 02 RW 03, Kecamatan Tampan hari ini di datangi sejumlah warga. Hal ini dikarenakan warga merasa resah akan hadirnya OPSI yang diketahui sebagai wadah pendampingan bagi para penyuka sesama jenis (LGBT).

 

Dari pantauan , rumah yang cukup mewah dengan pagar besi berwarna hitam tersebut didatangi sejumlah warga sekitar yang merasa resah dengan aktivitas di dalamnya. Didampingi Hartono Yahya selaku Ketua RW 03 RT 02, Babinsa, Babinkamtibmas kelurahan Air Putih, warga menurunkan plang nama yang terpasang tepat di depan rumah tersebut.

 

Hartono mengatakan dia baru mengetahui tebtang detail organisasi ini baru hari ini. Menurutnya memang pemilik rumah telah melapor melalui ketua RT sejak 2017 lalu. "Benar, tapi yabg dilaporkan mereka bergerak di bidang kesehatan yakni penanggulangan HIV Aids. Kalau LGBT baru hari ini saya tahu," katanya.

 

Dijelaskan Hartono, rumah yang dijadikan sebagai sekretariat OPSI ini adalah rumah pribadi. "Sebelum konfirmasi ke sini kita telah menerima laporan dari warga tentang adanya aktivitas yang mencurigakan. Yakni ramai orang berkumpul dengan pakaian yang mencolok dan memutar musik dari jam 21.00 sampai 02.00 dini hari.

 

Namun, segala sesuatunya kita serahkan ke pihak berwajib," terangnya. Sementara, Zulfahmi selaku warga yang tinggal tak jauh dari rumah tersebut mengatakan, selama dia tinggal di wilayah ini, ia sering mendengar dentuman musik yang cukup keras dari rumah tersebut. Bahkan hingga larut malam.

 

"Beberapa kali hingga pukul 02.00 dini hari. Aktivitas ramai tapi pagar dikunci dari dalam dan yang datang penampilannya mencolok. Pakai rok di atas lutut untuk perawakannya seperti bencong, karena saya lihat sepintas lalu saja," terangnya. Hal serupa juga disampaikan Abdul Rafis. Menurut mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Riau ini, dia sering melihat keramaian layaknya pesta dengan diiringi musik.

 

"Sering ada acara seperti ulang tahun dengan musik yang keras. Ramai ada sekitar 20 orang yang datang dengan penampilan seperti bencong," katanya. "Kita paham dengan spanduk yang berlogo pelangi yang melambangkan LGBT. Sempat komunikasikan ke tetangga tapi tidak ada respon. Bahkan memang kita sempat ingin bertindak sendiri dan membakarnya," tambahnya lagi.

 

Dia berharap, aktivitas di rumah tersebut dihentikan. Karena sudah mengganggu warga sekitar. Berbeda, Ketua RT 02 RW 03, Supriadi justru mengatakan tidak ada warga yang melaporkan keresahan kepadanya. Bahkan, ia bersama warga memantau aktivitas di rumah tersebut normal.

 

"Kita tau rumah tersebut digunakan untuk organisasi sejenis pembinaan, dan saya kaget, kok tiba-tiba ada anggota dewan datang tanpa menginformasikan ke kita terdahulu," terangnya. Diterangkannya, penghuni rumah adalah mantan LGBT yang bergerak untuk merangkul para komunitas tersebut yang beroperasi sejak 2016 lalu.

 

"Sempat vakum, dan selama ini tidak ada laporan dari warga. Bahkan tidak ada juga laporan membunyikan musik hingga larut malam, tapi kalau batas waktu kita kira wajar. Dan hingga saat ini belum menyimpang," jelasnya.

 

Sementara, Ketua OPSI sekaligus pemilik rumah Ruli Ramadani mengaku memang oraganisasinya bergerak dalam penanggulangan HIV Aids. "Kami menyosialisasikan HIV secara umum kepada masyarakat, dan masih kita mulai dari kalangan kita yang notabene nya yang retan terjangkit.

 

Memang kita belum turun ke warga," bebernya. Lanjut Ruli, pihaknya tidak mendukung LGBT, namun memang fokus memangkat isu kegiatan termasuk LGBT. "Kita sosialisakan ke mantan dan yang masih aktif. Kita tidak melegalkan dan mendukung. Kita bukan kumpulan khusus untuk itu dan kita hanya memberikan informasi," paparnya.

 

Menanggapi adanya laporan warga, Ruli juga mengatakan musik itu merupakan musik karaoke yang memang menjadi kegemarannya. "Kenapa warga kok tidak menegur kalau memang merasa resah. Kita disini tinggal bertiga tapi satu teman singgah dan satu lagi adalah adik saya.

 

Kita sebelumnya juga sudah laporkan kegiatan kita ke perangkat desa yang ada. Bahkan untuk legalitas organisasi kita disahkan oleh kemenkumham, dinas kesehatan, kesbangpol kota dan provinsi. Makanya saya berani buat plang," tuturnya.

 

Namun, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Ruli dan adiknya kini diamankan oleh Polsek Tampan guna memintai lebih lanjut. Dalam hal ini Kapolsek Tampan, Kompol K Ritonga bersama jajaran turun langsung dan membawa kedua orang tersebut.***(rtc)

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »