TuahRiau.Com
Home ยป Opini

Peduduk Asli Nusantara |Oleh DR. M Rawa El Amady

Selasa,17 Oktober 2017
Peduduk Asli Nusantara |Oleh DR. M Rawa El Amady
DR. M Rawa El Amady

SEBUAH kajian arkeologi selama 20 tahun yang dilakuan arkeolog dari Malaysia Nik Hasan Suhaimi Nik Abdul Rahman, (1996)  di Semenanjung Malaysia dan Sumatera menyimpulkan bawah nenek moyang nusantara  bukan berasal di dari Indochina melain  merupakan suku asli yang berada di pesisir selat Melaka yang sudah ada sejak  35.000 tahun sebelum masehi. 

Temuan ini tentu saja membantah teori migrasi sebagaimana yang disepakati oleh para arkeolog dan antopologi fisik sebelumnya bahwa suku Melayu  berasal dari Indochina.

Ahli arkeologi dan antroplogi fisik sepakat bahwa penduduk pertama di pesisisr selat Melaka adalah Australo-Melanesia (Proto melayu) yang hidup di zaman Plestosen dan berbudaya Mesolitikum di zaman Holosen yang hidup pada 11.000 hingga 10.000 Sebelum Masehi yang berasal dari China. 

Kebudayaan Mesolitikumum  berubah ke kebudayaan Neolitikum sekitas 5000 tahun lalu menurut arkeolog barat menggunakan teori migrasi dari kebudayaan yang bertutur Austronesia.  Pendapat ini ternyata tidak didukung oleh bukti arkeologi yang kuat. 

Apalagi di Semenanjung Malaysia sendiri warisan kebudayaannya tidaklah sama tetapi pada zaman logam mereka memiliki cara hidup yang berlainan.

Peneliti memampar beberapa bukti penting; Pertaman, Sifat kapak/beliung empat segi berbeda dari ukuran, bentuk dan bahan yang digunakan di Thailand. Jika berdasarkan kapak ini saja maka teori migrasi tidak logik karena kapak seperti itu bisa terdapat dimana saja. kapan di Sumatera, Selatan Thailand, Kedah, Perak dan Selangor berbeda dari segi ukuran dan bahannya. 

Sementara itu, kajian terhadap alat batu Neolitikum  dijumpai di Sumatera dan Malaysia tetapi tidak terdapat di Sai Yok atau Ban Kao. 

Penemuan kapak dari batu ini tidak ditemukan oleh peneliti barat . Begitu juga jenis kapak yang belum dilicin juga dijumpai di Selangor tepatnya di Jenderam Hilir yang sifatnya belum masuk zaman Neolitikum. Temuan ini sekali lagi membantah teori migrasi.
 
Kedua, Sifat tembikar khususnya yang berkaki tiga di pesisir Melaka berbeda juga dengan tembikar tanah dari Thailand. Begitu juga dengan Tembikar tanah yang dijumpai di Jenderam Hilir ternyata bukan datang dari luar melainkan hasil karya masyarakat Jenderam Hilir sendiri. 

Ketiga, Gelang Batu yang didapat di Semenanjung Malaysia juga didapati di tapak yang menghasilkan kebudayaan logam di tenggara Thailand.

Keempat, Alat Batu pemukul Kulit terdapat juga di Semenanjung Malaysia juga terdapat di Sumatera pada masa akhir Neolitikum.

Kelima, Teknologi Neolitikumum tidak bisa menyumbang teknologi perkapakan yang kuat dan tahan terhadap gelombang. Teknologi tersebut hanya dihasilkan oleh kebudayaan semenanjung Melayu, yang kemudian melakukan transaksi perdagangan.

Keenam, Terjadinya transaksi perdagangan antara masyarakat pesisir dengan masyarakat pedalaman semenanjung Melayu. Bukti dijumpainya kulit kerang di Cheroh, Gua Kerbau, Gol Bait  semuanya di  Perak, Bukit Chintamani di Pahang, Bukit Chuping di Perlis memperkuat  bukti terjadinya transaksi perdagangan tersebut. 

Perdagangan ini berupa barter antara kulit siput dengan hasil alam. Bahwa munculnya barang-barang neolitkum di kawasan semenanjung disebabkan oleh perdagangan bukan migrasi dari China atau Yunan Selatan.

Selain itu, Seni Arca Agama Hindu dan Budha diterima dengan baik di Nusantara. Namun demikian masyarakat Nusantara juga aktif menunjukkan identitis lokal dengan dengan arca yang bersimbolkan kulit harimau, yang dipandang sebagai pengaruh dari Pallava.  

Sehingga agak susah menentukan asal-usul dari bangunan tempat ibadah agama Hindu dan Budha tersebut. Masing-masing daerah memiliki ciri dan bentuk candi yang berbeda-beda. Muara Jambi misalnya  yang dibangun pada 10 hingga 11 Masehi yang berbentul empat persegi yang terbuat dari batu bata. 

Dilihat dari bahannya sama dengan Candi yang di Malaysia dan Vietnam. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran dan ukirannya. Candi-candi tersebut dibangun berdasarkan keinginan selera lokal jadi tidak banyak dipengaruhi dari luar. Walaupun diperkirakan candi-candi tersebut banyak mencontoh dari candi di Jawa Timur.

Proses evolusi telah merubah kebudayaan mereka yang semakin maju dan berkembang. Perubahan itu sendiri dimotori oleh perdagangan antar bangsa pada masa itu. Menurut penulis nenek moyang orang Melayu berasal dari satu keturunan saja yang kemudian berkembang dan dibedakan karena agama yang mereka anut. 

Kajian ini jelas sekali membantah bahwa asal usul nenek moyang suku Melayu berasal dari Cina karena bermigrasi. Temuan ini perlu menjadi perhatian bagi kita agar kita tidak selalu dicekokin  mitos asal usul nenek moyang nusantara adalah berasal dari Indocina. 

Tentu saja utk saat sekarang kata penduduk  asli sudah kurang tepat.

Penulis Adalah Pakar Antropolog Riau

Komentar Anda
© 2015 RadarPekanbaru.Com All Right Reserved