TuahRiau.Com
Home ยป Opini

Tobat Sambalado, Biarlah | Oleh Saidul Tombang

Minggu,24 September 2017
Tobat Sambalado, Biarlah | Oleh Saidul Tombang
Saidul Tombang

RADARPEKANBARU.COM- Banyak orang yang menunda pertaubatannya karena takut masih akan mengulangi aksi maksiatnya. Mereka Juga beralasan belum siap. Katanya, mereka takut mengotori kesucian taubat.

Maka, tak sedikit orang yang tidak mau memakai jilbab di kepala karena takut belum mampu menjilbabi hati. Banyak yang takut ke masjid karena takut suatu saat masih akan ke diskotek. Banyak yang enggan berpuasa karena masih gila kuasa. Banyak yang belum shalat karena takut disebut taat. 

Pada akhirnya, keinginan berjilbab tertunda, keinginan shalat tak jadi. Keinginan ke masjid diundurkan. Waktu untuk bertaubat pun menjadi molor. Ada yang  menargetkan pada usia 40 tahun. Ada pula yang menunggu masa pensiun. Tak sedikit pula yang memberi isyarat baru akan bertaubat jika sudah sekarat. 

Mereka berpendapat, bertaubat lalu kemudian mengulangi perbuatan maksiat maka itu adalah perbuatan maha jahat. Tobat sambalado berarti mempermainkan Allah. Hari ini sholat berjamaah besok main domino berjamaah. Hari ini berjilbab besok malah lenggak-lenggok di mal mengumbar aurat. Hari ini ke masjid besok asyik jogat joget di diskotek.

Salahkah tobat seperti ini? Jelas salah. Diterimakah tobat seperti ini? Tidak ada yang tahu sama sekali. Tapi yang pasti, Allah mengatakan bahwa tidak ada balasan yang pantas diberikan kepada yang taubatan nashuha selain surga yang mengalir air di bawahnya.

Tapi, menunggu seseorang melakukan taubatan nashuha tentulah bukan perkara mudah. Tak semua orang yang diberi hidayah untuk mendapatkan taubat sesungguhnya. Tak semua orang memiliki timing, motivasi, dan penjaga hati untuk dapat melaksanakan taubatan nashuha.

Lalu, kalau begitu sulitnya menggapai taubatan nashuha, pilihannya harus bagaimana? Taubatnya yang ditunda atau memilih taubat sambalado sebagai langkah dan anak tangga untuk mencapai taubatan nashuha?

Dalam sejarah Islam, ada sahabat Rasulullah SAW yang ternyata suka bergonta-ganti wajah. Namanya Abu Mihjan Ats Tsaqafy. Dia adalah pemabuk yang selalu merindukan syahid fi sabilillah. Dia seringkali dicambuk bahkan oleh Saidina Umar ibnu Khattab karena ketahuan teler minum khamar. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.

Tapi, Abu Mihjan sang pemabuk itu adalah pria yang tidak pernah absen di medan perang. Kekuatan pedang, tunggangan kuda, dan keberaniannya menerjang musuh sudah terbukti. Bahkan, seluruh sahabat sangat tahu gaya berperang Abu Mihjan. Dia selalu bertekad dapat mati syahid di medan juang.

Namun, itulah. Abu Mihjan tetap tak bisa melepaskan taubat sambaladonya. Hari ini berperang, besok minum khamar. Hari ini teler, besok membunuh kaum kafir tanpa keder.

Hingga suatu kali, saat perang melawan Persia, dia dikurung panglima perang Saad bin Abi Waqash. Abu Mihjan yang mendengar gemerincing pedang, derap sepatu kuda, darahnya pun mendidih. Tapi apalah daya, badannya dikurung.

Apalagi ketika dia mendengar pasukan Islam dipukul mundur, maka menangislah dia serta merengek kepada istri Saad supaya dilepaskan. Karena air matanya yang begitu tulus, akhirnya dia pun dilepaskan ke medan laga. Abu Mihjan pun berperang dengan penutup wajah supaya tak ada yang mengenalinya. Benar saja, dia berhasil membunuh Rustum, pemimpin pasukan Persia, dan Islam pun menang.

Abu Mihjan pun sampai pada masa akhir tobat sambaladonya. Perang melawan Persia adalah batu awal baginya untuk menjalani taubatan nashuhanya. Sehingga namanya begitu harum di tengah masyarakat Islam.

Berkaca dari kisah Abu Mihjan, memang pilihan utama orang Islam tentulah mendapatkan taubatan nashuha. Namun jika belum mampu melakukannya, tobat sambalado pun bukanlah pilihan yang salah. 

Kalaulah tobat sambalado bagian dari upaya untuk mendapatkan taubatan nashuha, mengapa tidak? Akal memang tak sekali datang. Rasa juga tak sekali tiba. Terkadang proses membuatnya lebih kuat dan hebat.***

Komentar Anda
© 2015 RadarPekanbaru.Com All Right Reserved