TuahRiau.Com
Home ยป Opini

Ketika Tanah Champa Menggoda | Oleh Saidul Tombang

Sabtu,23 September 2017
Ketika Tanah Champa Menggoda | Oleh Saidul Tombang
Foto : Batu nisan maharaja umdituddin, maharaja kerajaan champa abad 13 dengan latar belakang kuil hindu di Vietnam dibangun untuk menghormati sang maharaja.

RADARPEKANBARU.COM- Banyak kisah penjelajahan yang menginspirasi. Tapi perjalananmu, kawan, mendatangkan bilur cemburu bagiku.

Setiap ceritamu yang teruntai di balik ribuan kata, tentang negeri yang kau kunjungi, tentang sebuah tapak yang runtuh, tentang sebuah masa lalu, bagiku itu adalah lagu yang melebihi buluh perindu.

Mengapa engkau tidak cemburu ketika aku bercerita Paris yang romantis atau panasnya pantai-pantai cantik di bibir Karibia?

Pertanyaanmu itu selalu aku jawab dengan senyum. Pagi ini ingin aku buktikan bahwa Champa lebih menarik dibanding Karibia. Melayu yang rubuh di tepi Sungai Mekong lebih memanggil dibanding perempuan berbikini di pantai Hawaii. Aku ingin datang ke tapak Melayu yang pernah jaya di tanah Champa. Aku ingin menjemput rindu Islam masa lalu di tengah hegemoni Hindu dan orang-orang yang tidak memiliki Tuhan yang satu.

Ceritamu tentang Sungai Mekong dan masa lalu Champa-lah yang menyebabkan aku ada di sini pagi ini; di lobi hotel low budget, yang hanya berjarak sepelemparan tombak ke Menara Kualalumpur yang sengak ini. Di sini, aku menunggu waktu, menjemput burung besi untuk membawa kami terbang dan mendarat di tanah yang dulu membuat kita bangga; tanah Champa itu.

Saudaraku, sejarah memang milik masa lalu. Yang berlaku hari ini adalah tumpuk-tumpuk tumbuk sang pemilik kuasa; mereka yang memenangi isu, mereka yang berada di tampuk kuasa. Mereka yang berjaya setelah tangan dan hatinya berlumur darah. Benar yang dikata, segenggam kuasa adalah madu lebah. Sedangkan bagi yang kalah dia hanyalah remah.

Tak ada yang akan berubah dengan perjalanan ini saudaraku. Takkan komunisme di Champa itu akan runtuh dengan kehadiranku. Takkan bangsa Viet akan dituntut balas dan Polpot yang membunuh berjuta rekan seiman dan sebudaya itu dituntut rajam. Tapi perjalananku pada pagi ini adalah obat hati setelah lama cemburu dengan ketunakanmu tentang Melayu dan Tuhan kita yang satu.

Saudaraku, aku ingin melihat jejak 'tangan' Tuhan di sini. Aku ingin melihat seberapa besar kuasanya sehingga seribuan tahun berkuasa tapi Melayu dan Islam bisa runtuh di sini. Satu lagi ingin kusebut, jangan kita bangga dan jumawa dengan kuasa kita di Indonesia.

70 tahun bertahta bukan berarti telah nemiliki tapak sejarah yang tak akan binasa. Karena ternyara, kemegahan yang dibangun manusia, walau itu sudah melewati berbilang masa, suatu saat akan hancur juga. Dan kehancuran jejak manusia itu semuanya disebabkan mereka sudah lari dari garis Tuhannya.***

Komentar Anda
Populer
Terkini
© 2015 RadarPekanbaru.Com All Right Reserved