TuahRiau.Com
Home ยป Life Style

Mayat Bangun Dan Protes di Bangkinang

Kamis,04 Desember 2014
Mayat Bangun Dan Protes di Bangkinang
Praktek
RADARPEKANBARU.COM - Mayat bangun dan protes, yang memandikan menyakitinya. Ada ketentuan atau adab memandikan mayat sesuai dengan sunnah Nabi, bahwa meskipun orangnya sudah mati, kita tidak boleh berlaku kasar kepada mayat atau jenazahnya. Bahkan kalau memang sudah lama meninggal, lalu tangannya sudah kaku tak bisa dilipat ke dadanya, hendaklah membiarkannya apa adanya, jangan dipaksa. Karena perbuatan tersebut sesungguhnya termasuk menyakitinya, hanya saja dia sudah mati dan tidak bisa protes. Maka tidak aneh, kejadian terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II b Bangkinang Kamis siang 4/12. Mayatnya tiba-tiba bangun lalu protes kepada orang yang memandikannya, Kalian belum paham adab dan tatacara memandikan mayat, cara kalian ini salah, ini menyakiti mayat. Orang-orang yang dari semula khusuk dan serius memandikannya, sambil merasakan bagaimana sekiranya kita nanti yang mati, si mayatnya bangun, mereka jadi kaget, dan orang-orang yang hanya melihat-lihat saja spontan segera memegang mayat mungkin saja takut kalau-kalau mayatnya lari. Helman,orang yang jadi mayat dalam praktik memandikan jenazah tersebut duduk karena merasa para napi lain yang memandikannya telah melakukan malpraktik menyiram air ke muka, mulut, hidung, dan telinganya, sehingga dia tesedak dan lemas oleh air mandi jenazah. Ia protes, kalau mau mensucikan gigi, hidung, dan kotoran dalam perut mayat, mayatnya diangkat agak didudukkan, supaya kotorannya turun ke bawah dan air tidak masuk ke rongga tenggorokkannya. Suasana serius, kaku, berubah jadi hidup penuh dengan tawa dan canda yang dimulai dengan komentar Kalapas, Agus Pritiatno, Kok mayatnya bisa ngomong, protes lagi. Kemudian Kalapas melanjutkan komentarnya, kita sama-sama belajar termasuk saya sendiri, kebetulan yang menjadi mayat dalam pelatihan ini Helman adalah Warga Binaan sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman, sebenarnya dia tidak protes, cuma saling berbagi pengalaman dan pengetahuan, dan strategi itulah yang dilakukan oleh Tim Pembimbing Agama Islam Aplikatif Terintegrasi (BAIAT) tegasnya. Ketua Tim BAIAT DR.H.Amri Darwis dosen UIN Suska, ketika ditanya wartawan tentang strategi bimbingan yang diambil dalam BAIAT ini, sambil tersenyum menuturkan khusus pengajian bagi wargan lapas ini tidak lagi menggunakan metode dakwah biasa Cuma ceramah saja, mereka orang dewasa, punya pengalaman, punya harga diri, dan di sini dia juga sedang belajar menyadari konsep dan status dirinya. Maka kita harus bisa memberikan kebutuhan yang membuat dia taubat nashuha, berpikir positif, memperbanyak ibadah untuk menutup dosa dan kesalahannya berlalu, mereka perlu ketenangan hati, serta punya pengalaman dan ketrampilan sosial kemasyarakatan, sehingga begitu bebas mereka tidak mengulangi kesalahan lagi dan mampu berinteraksi dengan masyarakat.*** Penulis: Alamsah
Komentar Anda
Populer
Terkini
© 2015 RadarPekanbaru.Com All Right Reserved