TuahRiau.Com
Home ยป Dakwatuna

HARI RAYA IDUL ADHA 2020

Siap-siap Melaksanakan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Selasa,28 Juli 2020
Siap-siap Melaksanakan Puasa Tarwiyah dan Arafah
ilustrasi internet

RADARPEKANBARU.COM - Menjelang Hari Raya Idul Adha, Umat muslim di seluruh dunia disunnahkan melaksanakan puasa Tarwiyah dan Arafah. Amalan ibadah sunnah ini dilaksanakan dua hari sebelum tanggal 10 Dzulhijjah (Idul Adha) atau biasa disebut Lebaran Haji, yaitu pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah.

Jika sesuai kalender Islam, maka pelaksanaan puasa Tarwiyah dan Arafah ini akan jatuh pada hari Rabu (29/7) dan Kamis (30/7) besok. Kedua puasa sunnah ini sangat dianjurkan, karena memiliki keistimewaan tersendiri. Beberapa kitab fiqh dari berbagai mazhab menyebutkan disunnahkan puasa sunnah pada hari Tarwiyah.

Hadis riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu berikut adalah dalil terkuat yang dijadikan landasan disunnahkannya puasa hari Tarwiyah.

"Tidak ada hari yang di dalamnya amal soleh lebih dicintai Allah kecuali pada sepuluh hari ini (maksudnya 10 hari bulan Dzulhijjah).( HR Bukhari)

Hadis lain:

"Dari Hafsah radhiyallahu'anhu : ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW, yaitu puasa bulan hari Asyura (10 Muharram), (amal soleh) 10 hari pertama Dzulhijjah, tiga hari setiap bulan dan dua rakaat sebelum pagi” (HR Ahmad dan Nasa'i)

Berdasarkan hadis tersebut, cukup kuat pendapat ulama yang mengatakan bahwa disunnahkan puasa pada hari Tarwiyah. Pendapat yang mengatakan bahwa puasa Tarwiyah disunnahkan karena termasuk amal saleh yang dianjurkan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. 

Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa tidak disunnahkan secara khusus puasa pada hari Tarwiyah karena melihat hadis di atas yang dlaif atau lemah. Ini juga terkembali pada masalah perbedaan pendapat mengenai apakah hukum menggunakan hadist dlaif. Sebaiknya pengikut kedua pendapat tersebut saling menghargai karena masing-masing mempunyai landasan dalil yang diyakini.

Sedangkan puasa Arafah, dijelaskan memiliki keistimewaan yang sangat besar. Dalil yang menguatkannya adalah :

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

zulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi’ secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi’iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadis dari Ummul Fadhl.”

Adapun orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah.

“Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi SAW. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari Muslim).

“Dari Maimunah radhiyallahu'anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi SAW berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadis tersebut, cukup kuat pendapat ulama yang mengatakan bahwa disunnahkan puasa pada hari Tarwiyah. Pendapat yang mengatakan bahwa puasa Tarwiyah disunnahkan karena termasuk amal saleh yang dianjurkan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. 


Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa tidak disunnahkan secara khusus puasa pada hari Tarwiyah karena melihat hadis di atas yang dlaif atau lemah. Ini juga terkembali pada masalah perbedaan pendapat mengenai apakah hukum menggunakan hadist dlaif. Sebaiknya pengikut kedua pendapat tersebut saling menghargai karena masing-masing mempunyai landasan dalil yang diyakini.

Sedangkan puasa Arafah, dijelaskan memiliki keistimewaan yang sangat besar. Dalil yang menguatkannya adalah :

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi’ secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi’iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadis dari Ummul Fadhl.”

Adapun orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah.

“Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi SAW. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari Muslim).

“Dari Maimunah radhiyallahu'anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi SAW berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Niat dan Bacaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Berikut niat dan bacaan puasa sunnah ini :

Niat puasa Tarwiyah

NAWAITU SAUMA TARWIYAH SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH

“ Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.”

Niat puasa Arafah:

NAWAITU SAUMA ARAFAH SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH.

“ Saya niat puasa Arafah , sunnah karena Allah ta’ala.”

Sebagai catatan, jika terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Dzulhijjah antara pemerintah Arab Saudi dan Indonesia, maka umat Islam Indonesia melaksanakan puasa Arafah dan Tarwiyah sesuai dengan ketetapan pemerintah setempat. Ini didasarkan pada perbedaan posisi geografis semata.(sndo)

Komentar Anda
Populer
Terkini
© 2015 RadarPekanbaru.Com All Right Reserved