TuahRiau.Com
Home ยป Dakwatuna

Pahala Berwudhu

Sabtu,20 Juni 2020
Pahala Berwudhu
ilustrasi internet

RADARPEKANBARU.COM - Mahmud Syaltout dan  Ali al-Sais dalam Muqaranah al-Madzahib fi al-Fiqh, memperkuat pandangan para ulama sebelumnya, bahwa para ahli hukum dalam yurisprudensi Islam telah sepakat mengenai membasuh muka, membasuh kedua tangan, dan kedua kaki dan mengusap kepala sebagai pekerjaan yang fardhu hukumnya dalam berwudhu. 

 

Tentang perintah berwudhu itu sendiri, Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. al-Maidah/5: 6). Tampak jelas masalah wudhu ini Allah SWT yang bertitah secara langsung.

 

Muhammad Ali al-Shabuni dalam Tafsir al-Ayat al-Ahkam min al-Qur’an, menulis bahwa kata “mashu” dalam ayat tentang wudhu itu, mengandung pengertian mengusap anggota-anggota yang wajib dibasuh. Di sini ada isyarat yang lembut sekali yang menunjukkan harus adanya tertib wudhu, mulai dari muka hingga kedua kaki. Semua anggota wudhu ini memperoleh pahala.

 

Nabi SAW bersabda, “Jika seorang muslim atau mukmin berwudhu ia membasuh mukanya, maka akan keluarlah semua dosa yang dilakukan oleh kedua matanya bersama jatuhnya air atau bersama tetesan terakhir dari air. Ketika ia membasuh kedua tangannya, keluar pula seluruh dosa yang dilakukan kedua tangannya itu bersama air atau tetesan terakhir dari air.”

 

Nabi SAW melanjutkan, “Ketika ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah seluruh dosa yang dilakukan kedua kakinya bersama jatuhnya air atau tetesan terakhir air itu. Akhirnya ia bersih dari dosa-dos.” (HR. Muslim). Jadi, air wudhu tidak hanya membersihkan secara fisikal, namun juga mensucikan secara spiritual dari segala dosa. Inilah dua dimensi pahala berwudhu.

 

Efek positif berwudhu kekal abadi hingga kehidupan eskatologi. Nabi SAW memastikan, “Sesungguhnya umatku akan datang di hari kiamat dalam keadaan wajah berseri putih dan tangan-kaki bersinar terang. Maka siapa saja yang bisa memperpanjang cahaya putih di wajahnya hendaklah ia lakukan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, hendaklah ia memelihara wudhu.

 

Syaikh al-Hafani menuturkan, seperti dikutip Syaikh Nawawi Banten dalam Nashaihul Ibad,  bahwa barangsiapa yang berwudhu yang membuatnya jadi suci, maka ia akan dibalas dengan sepuluh wudhu. Satu wudhu itu sendiri memiliki 700 kebaikan. Ini lebih banyak dari yang difirmankan Allah SWT yang membalas sepuluh kali saja. (Misalnya, QS. al-An’am/6 :160).

 

Ada yang berpendapat, lanjut Syaikh Nawawi Banten, berwudhu itu adalah satu kebaikan, lantas dilipatgandakan jadi sepuluh kali. Lalu setiap sepuluh kebaikan dilipatgandakan dengan 700 kali, sehingga ada  7.000 kebaikan wudhu. Jadi, sudah sepantasnya bagi siapa saja untuk membiasakan diri menjaga wudhu karena pahalanya sangat besar.

 

Berdasarkan keterangan di atas, diketahui bahwa mulai generasi sahabat hingga orang-orang saleh pada saat ini, mereka senantiasa menjaga wudhu dalam segala aktivitasnya. Misalnya,  ketika membaca Alquran, dalam perjalanan, menuntut ilmu, bekerja, ketika hendak tidur, dan kegiatan lain termasuk bersetubuh  dan sesudahnya.

 

Terkait masalah terakhir ini, dalam sebuah hadits yang bersumber dari Aisyah, isteri Rasulullah, ia berkata, “Rasulullah SAW jika sedang berjunub lalu bermaksud hendak makan atau tidur, beliau mengambil air wudhu seperti untuk shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kesucian hidup dalam ajaran Islam seperti ini harus terus dipublikasikan agar dapat diamalkan.

 

Sebab secara filosofis, Allah SWT itu Mahasuci, maka tidak mungkin dapat didekati oleh orang yang tidak suci. Berwudhu adalah langkah awal untuk mendekati Allah SWT. Berwudhu menjadi syarat sahnya berkomunikasi kepada-Nya dalam shalat. Orang yang senantiasa berwudhu berpeluang besar untuk memahami segala titah Allah SWT. (rep)

Komentar Anda
Populer
Terkini
© 2015 RadarPekanbaru.Com All Right Reserved